Pola Tidur dan Jam Tidur yang Baik untuk Tumbuh Kembang Anak!
Kebutuhan tidur anak sejak anak hingga usia sekolah terus mengalami perubahan. Ketika masih anak, jam tidur yang baik sebanyak 14-15 jam yang terdiri dari 8 jam waktu tidur malam dan 6-7 jam tidur siang.
Pada fase balita, waktu tidur si Kecil berkurang menjadi 11-14 jam per hari, dengan waktu tidur siang selama 2 jam. Pada anak usia sekolah, waktu tidurnya lebih sedikit lagi, yaitu antara 10-11 jam per hari, dengan waktu tidur siang selama 2 jam.
Pentingnya Memenuhi Jam Tidur yang Baik untuk Anak
Memastikan si Kecil tidur secara teratur dengan waktu tidur yang cukup sangatlah penting lho, Mam, terutama saat ia sudah bersekolah. Anak sekolah yang memiliki masalah kurang tidur berisiko mengalami gangguan berikut:
- Sulit konsentrasi
- Mudah marah
- Penurunan IQ
- Masalah emosional (stres, depresi, dll)
- Masalah kesehatan (kegemukan, diabetes, dll)
Tidur yang cukup juga penting bagi anak dalam masa pertumbuhan, terutama untuk perkembangan otak yang normal. Cukup tidur juga berperan penting dalam mendorong perkembangan kognitif dan psikososial si Kecil. 1
Memenuhi jam tidur yang baik pada anak juga dapat mendukung daya ingatnya. Manfaat tidur untuk otak anak dapat membantu proses konsolidasi memori sehingga anak usia sekolah dapat menyimpan dan mengingat materi pelajaran.
Sebaliknya, kurang tidur akan berdampak negatif pada perkembangan otak si Kecil, menyulitkan anak dalam menyimpan dan memproses informasi baru. Selain itu, kurang tidur di malam hari juga bisa menjadi penyebab anak mudah mengantuk saat pelajaran, emosinya juga menjadi tidak stabil, sehingga konsentrasi belajarnya pun terganggu. Akibatnya, prestasi di sekolah juga bisa menurun. 2
Tanda Anak yang Cukup Tidur dan Kurang Tidur
Untuk mengetahui apakah si Kecil sudah mendapatkan waktu tidur yang cukup, Mam bisa melihat tanda-tanda berikut:
- Anak tampak bahagia, suasana hatinya stabil, dan tidak emosional.
- Lebih fokus dan mudah berkonsentrasi saat belajar karena tidak mengantuk.
- Lebih mudah dibangunkan dan tidak rewel.
- Lebih cepat atau tidak butuh waktu lama untuk tertidur.
- Pola tidur lebih teratur, bahkan saat hari libur.
Sedangkan anak yang kurang tidur biasanya menunjukkan tanda-tanda, seperti:
- Fokus dan perhatian rendah saat beraktivitas.
- Mudah lupa dan sulit berkonsentrasi.
- Nilai dan performa di sekolah rendah.
- Mudah rewel dan emosional.
- Terlihat sedih dan tidak bersemangat.
- Sering mengalami pusing atau mual.
- Susah dibangunkan dari tidur. 3
Terkadang, waktu tidur di malam hari belum cukup memenuhi kebutuhan tidur anak sesuai usia si Kecil. Karenanya, untuk membantu si Kecil mendapatkan cukup waktu tidur, Mam bisa membiasakan tidur siang. Pada balita, tidur siang selama 2 jam setiap hari dapat membantu memastikan anak mendapat cukup waktu tidur, yakni sekitar 11-14 jam per hari untuk menjaga perkembangan fisik, mental, dan emosional anak yang sehat. 4
Baca Juga : 4 Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak
Tips Membangun Pola Tidur Anak yang Sehat
Menurut Dra. Ninik Bawani, psikolog anak dari RS Internasional Bintaro, Tangerang, orang tua adalah pihak yang paling berperan dalam membentuk pola tidur anak yang sehat. Tidur yang cukup sangatlah penting untuk kesehatan anak sekolah. “Selain badannya sehat, metabolisme dan aktivitasnya juga bagus,” ujar Ninik. Untuk membangun pola tidur yang sehat dan baik guna mendukung kesehatan anak sekolah, ikuti tips ini ya, Mam:
1. Buat jadwal tidur malam yang teratur
Tak perlu menunggu si Kecil menguap atau mengantuk untuk menyuruhnya tidur. Tetapkan waktu atau jam yang sama bagi si Kecil untuk tidur setiap hari, baik di malam maupun siang hari. Jill Spivack, salah satu penulis buku The Sleepeasy Solution: The Exhausted Parent's Guide to Getting Your Child to Sleep from Birth to Age 5 mengatakan, anak yang tidur terlambat justru akan bertambah lelah dan pada akhirnya semakin sulit terlelap. Agar langkah ini berhasil, Mam dan Pap harus konsisten menerapkannya, ya.
2. Atur kegiatan di malam hari
Menjelang waktu tidur, batasi aktivitas yang boleh dilakukan oleh si Kecil. Atur kegiatannya supaya tidak mengganggu waktu tidur atau persiapannya menuju tidur. Misalnya, tidak boleh bermain gadget, berhenti menonton televisi sekitar 1 jam sebelum tidur, tidak boleh membawa benda elektronik ke dalam kamar, dan lain sebagainya. Menurut Jodi Mindell, profesor psikologi di Universitas St. Joseph dan penulis buku Take Charge of Your Child’s Sleep, pengaturan yang ketat ini tergolong efektif untuk membentuk pola tidur yang baik, lho.
3. Ciptakan suasana kamar yang nyaman
Suasana kamar yang nyaman dapat mendorong si Kecil untuk terlelap. Beberapa cara yang dapat Mam lakukan untuk mewujudkannya yaitu menyalakan lampu yang redup, menyalakan musik bernada lembut (atau meniadakan suara apa pun), menyalakan pendingin ruangan, menyelimuti si Kecil, dan lain sebagainya.
4. Ciptakan rutinitas menjelang tidur
Selain mengatur jam tidur anak yang sama setiap hari, Mam juga bisa menciptakan rutinitas menjelang tidur bagi si Kecil. Misalnya, berganti baju dengan piyama, mencuci kaki dan menggosok gigi, membacakan cerita, dan lain sebagainya. Jadikan kebiasaan-kebiasaan itu sebagai ‘pengantar’ menuju waktu tidur. Setelah rutin dilakukan, si Kecil akan paham sendiri bahwa kegiatan-kegiatan itu menandakan sudah waktunya untuk tidur.
5. Mengatasi penyebab anak susah tidur
Tak jarang anak mengalami susah tidur di malam hari. Penyebabnya bisa berbeda-beda pada masing-masing anak. Hal yang mungkin dapat membuat si Kecil susah tidur, seperti cemas atau stres karena ruangan gelap atau mimpi buruk, penggunaan gadget yang berlebihan sebelum tidur, aktivitas berat sebelum tidur, asupan makanan atau minuman yang mengandung kafein, hingga sensitivitas anak terhadap suara, cahaya, suhu, atau bahan piyama dan sprei. Jika si Kecil mengalami susah tidur di malam hari, segera cari tahu penyebabnya dan ambil tindakan untuk mengatasinya sebagai cara agar anak tidur nyenyak. 5
Setelah memasuki fase sekolah, si Kecil memang akan menjadi semakin aktif. Maka dari itu, jangan sampai Mam terlambat membentuk pola tidur sehat untuknya, ya. Tak bisa dipungkiri, pola tidur yang sehat sama pentingnya dengan asupan nutrisi seimbang untuk menjaga kesehatan anak sekolah.
Mam bisa memenuhi kebutuhan gizi si Kecil dengan memberikan menu makanan sehat setiap hari. Selain itu, Mam bisa memberikan juga asupan susu S-26 Procal Nutrissentials, susu pertumbuhan untuk anak usia 1-3 tahun.
S‑26 Nutrissentials hadir dengan Kolin, AHA, DHA, Alfa-Laktalbumin, Omega 3 & 6, dilengkapi vitamin serta mineral untuk dukung perkembangan otak, daya tahan tubuh, dan pertumbuhan si Kecil setiap hari. Dukung belajar pintar si Kecil dengan tubuh dan otak yang optimal.
World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif hingga anak berusia 6 bulan. Nestle sepenuhnya mendukung rekomendasi ini untuk tetap memberikan ASI setelah memperkenalkan makanan pendamping ASI seperti yang disarankan oleh otoritas kesehatan.
Baca Juga : Nutrisi dan Stimulasi Anak untuk Tumbuh Kembang Optimal
Memastikan si Kecil mendapatkan jam tidur yang baik dan menerapkan pola tidur yang sehat akan mampu mendorong pertumbuhan anak yang sehat. Karenanya, bantu si Kecil agar cukup mendapat waktu tidur ya, Mam!
Pertanyaan Seputar Jam Tidur Anak
1. Berapa jam tidur yang baik untuk anak usia 1-3 tahun?
Porsi tidur yang disarankan untuk anak usia 1-3 tahun adalah 11-14 jam per hari, termasuk tidur siang selama sekitar 2 jam per hari dan 9-12 jam tidur di malam hari.
2. Apakah tidur siang wajib untuk perkembangan anak?
Meskipun tidur siang tidak wajib, namun sangat disarankan untuk anak karena penting untuk perkembangannya. Tidur siang selama 2 jam setiap hari dapat membantu memastikan anak mendapatkan cukup waktu tidur, yakni antara 11-14 jam per hari untuk menjaga perkembangan fisik, mental, dan emosional anak yang sehat.
3. Kenapa anak sering susah tidur di malam hari?
Anak sering mengalami susah tidur di malam hari bisa disebabkan beberapa hal, seperti cemas atau stres karena ruangan gelap atau mimpi buruk, penggunaan gadget yang berlebihan sebelum tidur, aktivitas sebelum tidur, asupan makanan atau minuman yang mengandung kafein, hingga sensitivitas anak terhadap suara, cahaya, suhu, atau bahan piyama dan sprei.
Referensi
- Alrousan, G., Hassan, A., Pillai, A. A., Atrooz, F., & Salim, S. (2022). Early Life Sleep Deprivation and Brain Development: Insights From Human and Animal Studies. Frontiers in neuroscience, 16, 833786. https://doi.org/10.3389/fnins.2022.833786
- Loma Linda University Health. Why sleep is essential for children's brain development and health. Dari: https://news.llu.edu/health-wellness/why-sleep-essential-childrens-brain-development-and-health. Diakses pada 11/06/2026
- Mayo Clinic. Is your child getting enough sleep? Dari: https://www.mayoclinichealthsystem.org/hometown-health/speaking-of-health/is-your-child-getting-enough-sleep. Diakses pada 11/06/2026
- Baby Center. Naps for your 2- or 3-year-old. Dari: https://www.babycenter.com/child/sleep/napping-2-to-3-years_7672. Diakses pada 11/06/2026
- NHS. Sleep for neurodivergent children and young people. Dari: https://bedslutonchildrenshealth.nhs.uk/neurodiversity-support/a-whole-person-approach/sleep-for-neurodivergent-children-and-young-people/. Diakses pada 11/06/2026
Produk wyeth nutrition