Imunisasi pada Anak: Jadwal, Manfaat, dan Cara Mengatasi Efek Samping
Ditulis Oleh : Tim Penulis
Ditinjau Oleh dr. Achmad Rafli, Sp.A Subsp.Neuro
Imunisasi pada anak adalah langkah penting untuk melindungi si Kecil dari berbagai penyakit berbahaya sejak dini. Agar perlindungan ini optimal, orang tua perlu memahami dan mengikuti jadwal imunisasi dasar anak yang telah direkomendasikan. Secara singkat, jadwal tersebut dimulai dari saat bayi baru lahir dengan vaksin Hepatitis B, dilanjutkan usia 1 bulan (BCG dan Polio), usia 2–4 bulan (DPT-HB-Hib dan Polio), hingga usia 9 bulan (Campak-Rubela). Dengan mengikuti jadwal imunisasi yang tepat, daya tahan tubuh anak dapat terbentuk secara optimal sehingga risiko terkena penyakit serius dapat diminimalkan.
Program Imunisasi Nasional
1. BCG (Bacille Calmette-Guérin)
Untuk mencegah penyakit tuberkulosis atau TB (bukan lagi disingkat TBC), yaitu infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Waktu pemberian: saat bayi baru lahir.
2. Hepatitis B
Melindungi tubuh dari virus Hepatitis B, yang bisa menyebabkan kerusakan pada hati. Waktu pemberian: Dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 2 bulan, lalu saat 3 dan 4 bulan.
3. Polio
Melindungi tubuh terhadap virus polio, yang menyebabkan kelumpuhan. Waktu pemberian: saat kunjungan pertama setelah lahir. Selanjutnya, vaksin ini diberikan tiga kali, yakni saat bayi berumur 2, 3, dan 4 bulan, lalu harus diulang (boost) pada usia 18 bulan.
4. DTP (Diphteria, Tetanus, Pertusis)
Mencegah tiga jenis penyakit sekaligus yakni difteri (infeksi saluran pernapasan yang disebabkan bakteri), tetanus (infeksi bakteri pada bagian tubuh yang terluka), dan pertusis (batuk rejan). Waktu pemberian: saat bayi berumur 2 bulan. Pengulangan diberikan umur 3 dan 4 bulan, lalu diulang pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Pada usia 10-12 tahun, vaksin ini diberikan lagi, biasanya di sekolah.
5. Campak
Melindungi anak dari penyakit campak yang disebabkan virus.
Waktu pemberian: saat anak umur 9 bulan, lalu SD kelas 1 (6 tahun). Jika belum mendapat vaksin campak pada umur 9 bulan, bisa diberikan vaksin kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (MMR atau Measles, Mumps, Rubella) di usia 15 bulan. Saat ini Pemerintah sudah menyediakan vaksin baru, yaitu MR (Measles – Rubella) yang dapat diberikan sejak usia 9 bulan dan diberikan di sekolah-sekolah dan posyandu.
6. Pneumokokus (PCV)
Melindungi tubuh dari bakteri pnemukokus yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan infeksi telinga.
Waktu pemberian: umur 2, 4, 6 bulan, serta antara 12 - 15 bulan. Jika usia anak sudah 2 - 5 tahun, PCV hanya diberikan 1 kali.
7. HPV (Human Papilloma Virus)
Melindungi tubuh dari Human Papilloma Virus (HPV) yang menyebabkan kanker mulut rahim.
Waktu pemberian: di atas 10 tahun, diberikan 2 -3 kali dengan jadwal 0, 1-2 bulan kemudian, serta 6 bulan kemudian.
8. Hib
Melindungi tubuh dari virus Haemophilus influenza type B, yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan epiglotitis (infeksi pada katup pita suara dan tabung suara).
Waktu pemberian: umur 2, 3, 4 bulan, lalu diulang pada usia 15-18 bulan.
9. MMR (Measles, Mumps, Rubella)
Melindungi tubuh dari virus campak, gondok, dan rubella (campak Jerman). Waktu pemberian: usia 15 bulan, dan diulang saat anak berusia 5 tahun.
10. MMR (Measles, Mumps, Rubella)
Melindungi tubuh dari virus campak, gondok, dan rubella (campak Jerman). Waktu pemberian: usia 15 bulan, dan diulang saat anak berusia 5 tahun.
11. Rotavirus
Melindungi dari diare berat akibat infeksi rotavirus. Vaksin ini diberikan secara tetes (oral), jadwal pemberian mengikuti jenis vaksin yang digunakan:
- Pentavalen: Diberikan 3 dosis. Dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis kedua usia 3 bulan, dan dosis ketiga usia 4 bulan.
- Monovalen: Diberikan 2 dosis. Dosis pertama usia 2 bulan dan dosis kedua usia 3 bulan.
Imunisasi Tambahan
Pneumokokus (PCV)
Melindungi tubuh dari bakteri pnemukokus yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan infeksi telinga.
Waktu pemberian: umur 2, 4, 6 bulan, serta antara 12 - 15 bulan. Jika usia anak sudah 2 - 5 tahun, PCV hanya diberikan 1 kali.
Influenza
Melindungi tubuh dari beberapa jenis virus influenza. Waktu pemberian: Setahun sekali sejak usia 6 bulan. Bisa terus diberikan hingga dewasa.
Tifoid
Melindungi tubuh dari bakteri Salmonella typhi yang menyebabkan demam tifoid (tifus). Waktu pemberian: di atas 2 tahun, dan diulang setiap 3 tahun.
Hepatitis A
Melindungi tubuh dari virus Hepatitis A, yang menyebabkan penyakit hati. Waktu pemberian: di atas 2 tahun, dua kali dengan interval 6 - 12 bulan.
Varisela
Melindungi tubuh dari cacar air. Waktu pemberian: di atas 12 bulan.
Japanese Encephalitis (JE)
Mencegah radang otak akibat virus JE yang ditularkan oleh nyamuk. Vaksin ini direkomendasikan bagi bayi mulai usia 9 bulan di daerah endemis. Booster (dosis penguat) bisa diberikan 1-2 tahun kemudian untuk memberikan perlindungan jangka panjang.
Dengue
Melindungi terhadap 4 serotipe virus dengue.
- Vaksin Qdenga: Direkomendasikan untuk usia 6–18 tahun. Diberikan sebanyak 2 dosis dengan interval 3 bulan, dan tidak memerlukan tes darah (serologi) sebelumnya.
- Vaksin Dengvaxia: Direkomendasikan untuk usia 9–16 tahun dan dikhususkan bagi mereka yang sebelumnya pernah terinfeksi dengue (seropositif). Diberikan dalam 3 dosis dengan interval 6 bulan.
Pastikan si Kecil mendapat imunisasi lengkap ya, Mam… agar tubuhnya tetap sehat dan lebih kuat menghindari serangan penyakit.
Jadwal Imunisasi Dasar Lengkap untuk si Kecil
Berdasarkan aturan Kementerian Kesehatan, berikut adalah jadwal imunisasi dasar anak yang perlu Mam catat dan penuhi:
- Baru lahir (<24 jam): Hepatitis B (HB-0).
- Usia 1 bulan: BCG dan Polio tetes pertama (bOPV1).
- Usia 2 bulan: DPT-HB-Hib pertama, Polio tetes kedua, Rotavirus pertama, dan PCV pertama.
- Usia 3 bulan: DPT-HB-Hib kedua, Polio tetes ketiga.
- Usia 4 bulan: DPT-HB-Hib ketiga, Polio tetes keempat, Polio suntik (IPV) pertama, Rotavirus kedua, dan PCV Kedua
- Usia 6 bulan: Rotavirus ketiga dan PCV ketiga.
- Usia 9 bulan: Campak-Rubela (MR) pertama dan Polio suntik (IPV) kedua.
Bolehkah si Kecil Diimunisasi Saat Sedang Sakit?
Jadwal imunisasi dasar anak sudah dekat, tetapi si Kecil sedang sakit. Mungkin Mam bimbang ya kalau ada di situasi seperti ini.
Itu adalah pemikiran yang wajar. Menurut panduan dari American Academy of Pediatrics (AAP), penyakit ringan seperti batuk, pilek, atau demam ringan bukan penghalang untuk pemberian vaksin.
Imunisasi pada anak tetap aman diberikan karena tidak akan memperburuk kondisi penyakitnya. Sebab, vaksin hanya akan memberikan virus atau bakteri kecil yang mampu dibendung oleh sistem imun si Kecil, meskipun sedang sakit.
Namun, jika si Kecil mengalami sakit sedang dan serius, baik demam atau tanpa demam, konsultasikan dulu dengan dokter. Kondisi seperti ini biasanya harus menunggu sampai si Kecil membaik lebih dulu. Dokter juga akan menentukan vaksin jenis apa yang bisa diberikan atau tidak.
Tips Mengatasi Efek Samping Setelah Imunisasi pada Anak
Setelah imunisasi, beberapa anak dapat mengalami efek samping imunisasi, seperti demam, nyeri, kemerahan, atau bengkak pada area suntikan. Reaksi ini umumnya normal dan merupakan tanda bahwa tubuh sedang membentuk perlindungan terhadap penyakit. Oleh karena itu, demam bukan tanda anak bertambah sakit
Untuk membantu mengurangi efek nyeri atau bengkak, Mam dapat mengompres area suntikan dengan kain bersih yang dingin dan lembap. Jika mengalami demam, kompres dengan air hangat. Dalam 24 jam setelah menerima vaksin, si Kecil mungkin akan makan lebih sedikit dari biasanya. Tenang, ini normal.
Jika demam dirasa cukup tinggi, Mam bisa berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan atau obat penurun panas (parasetamol) sesuai kebutuhan. Jangan lupa terus pantau suhu tubuh secara berkala. Tetap tenang ya Mam. ini adalah fase natural yang perlu dilewati si Kecil.
Untuk nyeri atau bengkak pada area suntikan dapat diatasi dengan mengompres area suntikan menggunakan kain bersih yang dingin.
Proses itu juga sebanding karena manfaat vaksinasi balita sangat besar untuk melindungi si Kecil dari berbagai penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan kematian. Untuk mendukungnya, selain memberikan imunisasi pada anak, pastikan Si Kecil juga mendapatkan perlindungan yang optimal dari dalam.
S‑26 Nutrissentials hadir dengan Kolin, AHA, DHA, Alfa-Laktalbulmin, Omega 3 & 6, dilengkapi vitamin serta mineral untuk dukung perkembangan otak, daya tahan tubuh, dan pertumbuhan si Kecil setiap hari. Dukung belajar pintar si Kecil dengan tubuh dan otak yang optimal.
Pertanyaan Seputar Imunisasi pada Anak
1. Apakah anak boleh diimunisasi saat sedang batuk pilek?
Ya, Mam. Batuk pilek atau sakit ringan bukan halangan untuk imunisasi. Vaksin tetap aman dan efektif diberikan untuk menjaga sistem imun si Kecil.
2. Bagaimana cara mengatasi demam setelah imunisasi?
Berikan kompres air hangat atau dingin, pastikan si Kecil cukup minum, dan kenakan pakaian yang nyaman. Konsultasikan dengan dokter untuk pemberian obat pereda nyeri jika diperlukan.
3. Apa akibatnya jika jadwal imunisasi anak terlewat?
Jika terlewat, anak menjadi lebih rentan atau berisiko terkena penyakit menular selama periode penundaan tersebut. Segera bawa ke tenaga kesehatan agar si Kecil bisa segera mendapatkan imunisasi kejar (catch-up immunization).
Referensi
1. Kemenkes RI. Seputar Imunisasi. Dari: https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/seputar-imunisasi. Diakses pada 11/06/2026
2. CDC. Vaccines When Your Child Is Sick. Vaccines for Your Children. Dari: https://www.cdc.gov/vaccines-children/before-during-after-shots/when-your-child-is-sick.html. Diakses pada 11/06/2026
3. CDC. Before, During, and After Shots. Vaccines for Your Children. Dari: https://www.cdc.gov/vaccines-children/before-during-after-shots/index.html. Diakses pada 11/06/2026
4. Jadwal Imunisasi Anak IDAI Tahun 2024. Dari: https://www.idai.or.id/news-event/agenda-nasional/others/6798. Diakses pada 30/06/2026
5. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. HK.01.07/MENKES/6779/2021. Dari: https://kemkes.go.id/id/penguatan-upaya-preventif-melalui-kemudahan-akses-vaksin-hpv. Diakses pada 30/06/2026
Produk wyeth nutrition

