13 Gejala Asma pada Anak yang Perlu Diwaspadai
Gejala asma pada anak perlu dikenali sejak dini agar kondisi ini dapat ditangani dengan tepat dan tidak mengganggu aktivitas si Kecil. Umumnya, anak yang mengalami asma akan menunjukkan tanda seperti batuk berkepanjangan, mengi, sesak napas, hingga sulit tidur di malam hari.
Jika tidak terkontrol dengan baik, dampak asma pada anak dapat mengganggu kualitas tidur, aktivitas bermain, olahraga, hingga proses belajar di sekolah.
Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor sebagai penyebab asma pada anak, mulai dari alergi, infeksi saluran pernapasan, paparan asap rokok, hingga faktor genetik.
Dengan memahami gejala dan penyebabnya, Mam dapat lebih cepat mengambil langkah untuk mengelola asma agar si Kecil tetap nyaman dan aktif.
Gejala Asma pada Anak
Apa gejala awal penyakit asma pada anak dan gejala umum lainnya? Gejalanya dapat bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang parah, berikut yang perlu Mam ketahui:
1. Batuk berulang
Batuk merupakan salah satu gejala asma yang paling sering muncul. Batuk sering muncul terutama pada malam hari, dini hari, atau setelah anak beraktivitas seperti berlari atau bermain. Batuk karena asma cenderung berulang dan dapat berlangsung dalam waktu yang lebih lama.
2. Batuk tanpa sebab yang jelas
Pada usia anak-anak, batuk kronis yang berkepanjangan sering kali merupakan satu-satunya gejala klinis asma yang terlihat. Mam perlu lebih cermat memperhatikan polanya. Jika batuk Si Kecil terus berlanjut selama berhari-hari hingga berminggu-minggu tanpa sebab yang jelas, kondisi ini merupakan salah satu ciri-ciri asma pada anak. Terkadang batuk tersebut terdengar kering tanpa lendir, serta bisa disertai suara mengi saat ia membuang napas.
3. Batuk di malam hari
Batuk pada anak dengan asma cenderung memburuk di malam hari atau ketika anak sedang sakit. Batuk ini sering kali persisten dan bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
4. Batuk saat udara dingin
Keluhan batuk akibat asma juga rentan bertambah parah ketika Si Kecil terpapar udara dingin. Paparan udara yang dingin dan kering dapat mengiritasi paru-paru serta memicu peradangan saluran pernapasan sehingga menimbulkan batuk.
5. Mengi
Mengi adalah suara napas berbunyi seperti orang bersiul dimana merupakan tanda bahwa saluran pernapasan si Kecil menyempit dan meradang. Mengi terdengar ketika anak menghembuskan napas.
6. Sesak napas
Anak mungkin mengeluh sulit bernapas atau merasa dadanya terasa berat. Ketika sesak napas berat, otot di sela tulang rusuk atau bagian leher tampak tertarik ke dalam saat bernapas. Kondisi ini disebut retraksi dinding dada yang menandakan anak harus bekerja lebih keras untuk bernapas. Gejala ini merupakan tanda bahaya yang memerlukan penanganan medis segera.
7. Napas cepat
Saat saluran napas menyempit, tubuh akan berusaha mendapatkan lebih banyak oksigen dengan meningkatkan frekuensi napas. Akibatnya, anak bernapas lebih cepat dari biasanya.
8. Sulit bernapas
Selain gejala di atas, ciri-ciri asma pada anak adalah mengalami kesulitan bernapas, bahkan saat melakukan aktivitas normal sehari-hari, bahkan bisa memburuk saat mereka berolahraga atau bermain.
9. Susah tidur malam
Anak-anak dengan asma sering kali sulit tidur di malam hari karena batuk atau sesak napas. Hal ini bisa menyebabkan mereka merasa lelah di siang hari.
10. Batuk memburuk setelah tertawa, menangis atau terkena asap rokok
Apa ciri-ciri batuk asma selain kerap terjadi di malam hari? Tanda asma pada anak lainnya adalah mengalami batuk yang memburuk saat terpapar pemicu seperti tertawa, menangis, berolahraga, atau terpapar asap rokok.
11. Mudah capek
Asma bisa menyebabkan anak merasa lelah lebih cepat daripada biasanya, terutama setelah melakukan aktivitas fisik.
12. Sesak di dada atau nyeri dada
Pada si Kecil dengan usia di atas 5 tahun, gejala asma pada anak juga dapat berupa keluhan dada yang terasa atau nyeri.
13. Sesak napas saat aktif berolahraga
Kesulitan bernapas yang sampai mengganggu aktivitas fisik anak bisa menjadi salah satu tanda penyakit asma.
Saat anak berlari atau bermain, saluran pernapasan dapat menyempit yang memicu keluhan seperti batuk, suara mengi, dada terasa sesak, hingga napas memendek. Gejala asma terkait olahraga ini biasanya mulai muncul dalam 5 hingga 20 menit setelah anak melakukan aktivitas fisik yang intens.
Meski demikian, bukan berarti anak dengan asma tidak boleh berolahraga. Dengan penanganan medis yang tepat, kondisi saluran pernapasan dapat dikendalikan sehingga Si Kecil tetap bisa berolahraga dan aktif secara fisik.
Penyebab Asma pada Anak
Gangguan pernapasan asma pada anak terjadi akibat peradangan pada bronkus atau saluran udara di paru-paru sehingga mengakibatkan bronkus mengalami penyempitan, membengkak, dan timbul lendir berlebih.
Kondisi tersebut memicu si Kecil sulit untuk bernapas. Beberapa faktor umum yang menjadi penyebab asma pada anak adalah sebagai berikut:
Alergi
Si Kecil yang memiliki alergi terhadap makanan tertentu, debu, atau lingkungan yang berpolusi lebih rentan mengalami asma.
Genetik
Memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit asma meningkatkan risiko seorang anak memiliki kondisi yang sama.
Infeksi saluran pernapasan
Adanya infeksi saluran pernapasan oleh virus dapat memicu asma atau memperburuk gejala asma pada Si Kecil.
Paparan asap rokok
Paparan asap rokok yang terjadi pada saat Si Kecil masih dalam kandungan maupun setelah kelahiran juga dapat meningkatkan risiko asma pada Si Kecil.
Aktivitas fisik
Kegiatan fisik seperti olahraga di udara dingin, lembap, atau kering juga bisa memicu terjadinya gejala asma pada anak.
Asma merupakan penyakit kronis yang memiliki sifat kambuhan. Kabar buruknya, hingga saat ini, asma belum bisa disembuhkan.
Itu artinya cara menghilangkan asma pada anak adalah dengan mengendalikannya. Mam, mengendalikan asma pada Si Kecil berarti harus jeli mengenali apa saja yang menjadi pemicunya.
Pemicu Umum Serangan Asma pada Anak
Infeksi saluran pernapasan akibat virus, seperti batuk pilek biasa atau flu, merupakan salah satu penyebab asma kambuh yang paling umum terjadi.
Selain penyakit, paparan alergen baik di dalam maupun di luar rumah, seperti tungau debu, bulu hewan peliharaan, kecoa, serbuk sari, dan jamur, sangat rentan memicu peradangan pada saluran napasnya.
Mam juga perlu mewaspadai berbagai iritan di lingkungan sekitar. Asap rokok, polusi udara, hingga aroma menyengat dari produk pembersih rumah dan pewangi ruangan dapat mengiritasi paru-paru Si Kecil.
Faktor cuaca, terutama paparan udara yang dingin dan kering serta perubahan suhu mendadak, turut berkontribusi memicu serangan asma.
Di sisi lain, asma dapat kambuh ketika anak melakukan aktivitas fisik yang intens atau saat ia mengalami emosi yang kuat, seperti tertawa terbahak-bahak, menangis, hingga stres.
Memahami dan mencatat pemicu-pemicu spesifik ini akan sangat membantu Mam dalam meminimalkan frekuensi kekambuhan asma pada Si Kecil.
Berikut beberapa pemicu serangan asma yang paling sering ditemukan:
1. Infeksi Saluran Pernapasan
Infeksi virus, seperti flu atau pilek, merupakan salah satu penyebab kambuhnya asma pada anak. Infeksi saluran pernapasan menyebabkan saluran napas meradang dan menyempit sehingga memicu batuk, mengi, dan sesak napas.
2. Aktivitas Fisik
Sebagian anak mengalami gejala asma setelah berlari, bermain, atau berolahraga. Hal ini dikenal sebagai asma yang dipicu oleh aktivitas fisik (exercise-induced bronchoconstriction). Namun, bukan berarti anak tidak boleh berolahraga. Dengan pengelolaan asma yang baik, sebagian besar anak tetap dapat beraktivitas secara normal.
3. Udara Dingin
Menghirup udara yang dingin dapat memicu kambuhnya asma pada anak. Gejala biasanya muncul saat cuaca dingin atau berada di ruangan ber-AC dalam waktu lama.
4. Debu
Debu rumah, terutama jika terdapat tungau debu (dust mites) dapat memicu kambuhnya gejala asma pada anak. Tungau debu adalah tungau berukuran sangat kecil dan banyak ditemukan pada kasur, bantal, guling, karpet, sofa, dan boneka berbulu. Membersihkan rumah secara rutin dapat membantu mengurangi paparan pemicu ini.
5. Asap Rokok dan Polusi Udara
Paparan asap rokok dapat memperburuk peradangan saluran napas dan meningkatkan risiko serangan asma. Selain itu, polusi udara dari kendaraan bermotor, pembakaran sampah, atau asap dapur juga dapat memicu gejala asma pada anak.
6. Alergen
Alergen adalah zat yang tidak berbahaya pada orang lain, tetapi dapat memicu kambuhnya alergi pada orang yang hipersensitif. Berbagai alergen, seperti bulu atau air liur hewan peliharaan, jamur, serta serbuk sari tanaman dapat memicu reaksi alergi dan kambuhnya asma pada anak.
Perbedaan asma dan batuk pilek biasa
Mam, mungkin bingung membedakan batuk biasa dengan batuk pada gejala asma. Batuk pilek akibat infeksi virus umumnya akan membaik dalam waktu sekitar 1 minggu. Sementara itu, asma memiliki beberapa karakteristik yang berbeda, yaitu:
- Batuk sering kambuh, terutama pada malam hari.
- Disertai mengi atau sesak napas.
- Gejala muncul setelah olahraga, tertawa, atau terkena udara dingin.
- Keluhan dapat berulang meskipun infeksi sudah sembuh.
Karena gejalanya mirip, diagnosis asma harus ditegakkan oleh dokter dengan mengetahui riwayat medis anak, pemeriksaan fisik, dan bila diperlukan pemeriksaan fungsi paru sesuai usia anak.
Baca juga: Batuk Alergi pada Anak : Gejala, Penyebab, dan Tips Penanganan yang Efektif
7 Cara Mengendalikan Gejala Asma pada Anak
Mengelola atau mengendalikan asma pada anak membutuhkan pendekatan yang komprehensif, termasuk berkonsultasi ke dokter untuk penegakan diagnosa dan pengobatan lebih lanjut, serta mengubah gaya hidup. Berikut beberapa cara yang dapat Mam lakukan untuk mengatasi asma pada si Kecil:
1. Identifikasi dan hindari pemicu asma
Pemicu asma pada setiap anak dapat berbeda, mulai dari infeksi saluran pernapasan, aktivitas fisik tertentu, asap rokok, polusi udara, hingga alergen seperti debu, tungau, jamur, atau bulu hewan.
Setelah Mam mengetahui faktor yang memicu gejala asma pada Si Kecil dan mendapatkan evaluasi dari dokter, paparan terhadap pemicu tersebut dapat diminimalkan untuk membantu mengurangi risiko kekambuhan.
Menjaga kebersihan rumah, menghindari asap rokok, serta mengurangi paparan debu, tungau, jamur, dan bulu hewan juga dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi Si Kecil.
2. Latihan pernapasan
Latihan pernapasan dapat membantu Si Kecil belajar mengatur pola napas dengan lebih baik. Namun, latihan ini sebaiknya dilakukan sesuai usia dan kemampuan anak serta berdasarkan arahan tenaga kesehatan agar dapat menjadi bagian dari pengelolaan asma yang tepat.
3. Menjaga kualitas udara di rumah
Menjaga kualitas udara di rumah dapat membantu mengurangi paparan terhadap iritan yang berpotensi memicu gejala asma.
Mam dapat memastikan ruangan memiliki sirkulasi udara yang baik dan rutin membersihkan area yang mudah menumpuk debu. Penggunaan air purifier dapat dipertimbangkan untuk membantu menyaring partikel tertentu di udara.
Sementara itu, penggunaan humidifier perlu disesuaikan dengan kondisi kelembapan ruangan karena kelembapan yang terlalu tinggi justru dapat mendukung pertumbuhan jamur dan tungau.
4. Memiliki asthma action plan saat gejala kambuh
Asthma action plan adalah panduan tertulis yang disusun bersama dokter untuk membantu Mam dan orang terdekat mengenali perubahan gejala asma pada Si Kecil serta mengetahui tindakan yang perlu dilakukan.
Panduan ini umumnya mencakup informasi mengenai gejala yang perlu diperhatikan, penggunaan obat sesuai resep dokter, langkah yang dilakukan ketika gejala memburuk, serta kondisi yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Dengan adanya panduan ini, penanganan dapat dilakukan dengan lebih terarah ketika gejala asma muncul.
5. Menggunakan spacer dan masker inhaler sesuai anjuran dokter
Pada anak yang mendapatkan obat melalui inhaler, dokter dapat menyarankan penggunaan spacer dan masker sesuai usia Si Kecil.
Alat ini membantu obat dari inhaler masuk ke saluran pernapasan dengan lebih efektif. Mam juga perlu memastikan cara penggunaannya sudah sesuai dengan petunjuk dokter atau tenaga kesehatan.
6. Mengedukasi Si Kecil mengenai kondisi asmanya
Mam dapat memberikan pemahaman mengenai asma kepada Si Kecil dengan bahasa yang sesuai dengan usianya. Misalnya, membantu Si Kecil mengenali hal-hal yang dapat memicu gejala, memahami kapan perlu beristirahat, serta mengetahui kapan harus meminta bantuan kepada orang dewasa.
Mam juga dapat menginformasikan kondisi Si Kecil kepada anggota keluarga, pengasuh, maupun pihak sekolah agar mereka mengetahui langkah yang perlu dilakukan apabila gejala asma muncul.
7. Segera cari pertolongan medis saat muncul gejala berat
Mam perlu segera mencari pertolongan medis apabila Si Kecil mengalami gejala berat, seperti sesak napas yang semakin parah, kesulitan berbicara atau beraktivitas akibat sesak, bibir atau kuku tampak kebiruan, terlihat sangat lemas, atau gejala tidak membaik setelah menggunakan obat sesuai asthma action plan dan anjuran dokter.
Tanda Serangan Asma Berat yang Memerlukan Pertolongan Darurat
Anak yang memiliki asma dapat mengalami serangan asma berat. Mam harus mengenali tandanya agar bisa segera mencari pertolongan medis apabila anak mengalami. Berikut beberapa tanda serangan asma berat:
- Sesak napas yang semakin berat.
- Sulit berbicara karena kehabisan napas.
- Bibir atau ujung jari tampak kebiruan.
- Tarikan dinding dada saat bernapas.
- Napas sangat cepat dan obat pelega tidak membantu.
Kondisi ini merupakan keadaan darurat yang membutuhkan penanganan segera di rumah sakit. Mengetahui cara mengatasi anak sesak napas akibat asma juga penting bagi orang tua.
Saat gejala muncul, bantu anak duduk dalam posisi tegak agar lebih mudah bernapas, tenangkan anak agar tidak panik, dan jauhkan dari pemicu seperti asap rokok atau debu.
Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan apabila sesak semakin berat, bibir tampak kebiruan, atau anak sulit berbicara karena kehabisan napas.
Dengan mengenali gejala, menghindari pemicu, memahami cara mengatasi anak sesak napas, dan menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter, orang tua dapat membantu mengurangi dampak asma pada anak, sehingga tetap dapat tumbuh, belajar, dan beraktivitas dengan optimal.
Mengingat asma juga dapat dipicu karena alergi, Mam juga perlu memperhatikan apakah si Kecil juga mempunyai alergi tertentu.
Selain menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter, menerapkan pencegahan alergi pernapasan dengan mengurangi paparan alergen dan menjaga kualitas udara di rumah dapat membantu mencegah kekambuhan asma pada anak.
Saat punya alergi terhadap satu alergen, si Kecil juga memiliki risiko alergi terhadap alergen lainnya, seperti risiko alergi susu sapi. Karena itu, sangat penting bagi para Mam untuk tahu cara mengurangi risiko alergi pada diri si Kecil.
Itulah beberapa informasi seputar gejala dan penyebab asma pada anak serta cara pengendalian yang bisa Mam coba terapkan untuk menjaga si Kecil selalu sehat dan dapat beraktivitas dengan baik.
S‑26 Procal GOLD pHPro hadir dengan Partially Hydrolyzed Protein (Protein Terhidrolisa Parsial) yang lebih mudah dicerna serta mendukung pencernaan yang lebih nyaman.
Diperkaya AA & DHA, Omega 3 & 6, serta kombinasi vitamin dan mineral penting, S‑26 Procal GOLD pHPro membantu mendukung perkembangan otak, kemampuan belajar, dan kesiapan si Kecil menghadapi setiap tahapan tumbuh kembangnya.
*Baca Label Sebelum Membeli dan Baca Peringatan pada Label
Pertanyaan Seputar Gejala Asma pada Anak
1. Apakah penyakit asma pada anak bisa sembuh total seiring bertambahnya usia?
Penyakit asma pada anak merupakan kondisi kronis yang hingga saat ini belum bisa disembuhkan secara total. Meskipun demikian, gejala asma dapat dikendalikan agar tidak mudah kambuh. Kuncinya adalah dengan mengenali pemicunya dengan jeli dan memberikan penanganan yang tepat agar Si Kecil tetap bisa beraktivitas secara normal.
2. Bolehkah anak yang memiliki riwayat asma mengonsumsi minuman dingin atau es?
Tidak ada larangan atau anjuran mengkonsumsi minuman dingin maupun es pada anak penderita asma.
Namun, paparan udara dingin dapat mengiritasi paru-paru dan memicu peradangan saluran pernapasan Si Kecil. Mengingat pemicu asma bisa berbeda-beda pada setiap anak, Mam perlu mengobservasi reaksi anak dan berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan aman tidaknya konsumsi minuman dingin.
3. Kapan anak yang mengalami serangan asma harus segera dilarikan ke UGD?
Anak harus segera mendapatkan perawatan medis darurat apabila mengalami serangan asma dengan gejala yang parah.
Gejala parah yang perlu diwaspadai meliputi sesak napas yang berat, bibir yang membiru, tekanan darah rendah, serta adanya perubahan denyut jantung.
4. Apa penyebab utama penyakit asma sering diderita oleh anak-anak?
Penyebab asma pada anak adalah akibat peradangan pada bronkus atau saluran udara di paru-paru sehingga mengakibatkan bronkus mengalami penyempitan. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan asma adalah faktor genetik dan lingkungan, seperti riwayat alergi, infeksi saluran pernapasan, paparan asap rokok, polusi udara, serta alergen seperti debu dan tungau.
5. Apakah penyakit asma pada anak merupakan penyakit turunan yang diwariskan dari orang tuanya?
Faktor keturunan memang memengaruhi penyakit asma. Anak dengan orang tua yang memiliki riwayat asma atau alergi berisiko lebih tinggi mengalami asma. Meski begitu, tidak semua anak dengan riwayat keluarga akan menderita asma.
6. Bagaimana langkah untuk menghindari pemicu asma di dalam lingkungan rumah?Jaga rumah tetap bersih, kurangi debu dan tungau, hindari asap rokok, cegah pertumbuhan jamur, pastikan sirkulasi udara baik, serta batasi paparan alergen yang diketahui dapat memicu gejala asma pada anak. Langkah-langkah tersebut juga menjadi bagian penting dari pencegahan alergi pernapasan, terutama pada anak yang memiliki riwayat asma atau alergi.
Referensi
American College of Allergy, Asthma & Immunology. (n.d.). Children and asthma. https://acaai.org/asthma/asthma-101/who-gets-asthma/children/ diakses pada 16/07/2026
Goldin, J., & Bruner, P. J. (2025). Exercise-induced bronchoconstriction. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557554/
Centers for Disease Control and Prevention. (2024, May 15). Asthma control. https://www.cdc.gov/asthma/control/index.html diakses pada 16/07/2026
Watson, S. (2023, February 21). Asthma cough in kids: Causes, symptoms, and treatment. Healthline. https://www.healthline.com/health/asthma/asthma-cough-in-kids diakses pada 16/07/2026
North Tees and Hartlepool NHS Foundation Trust. (2023). Asthma and acute exacerbations (or flare-ups). https://www.nth.nhs.uk/resources/asthma-and-acute-exacerbations-or-flare-ups/ diakses pada 16/07/2026
Produk wyeth nutrition

