Permasalahan Anak Usia Dini dan Cara Orang Tua Menghadapinya
Si Kecil sering membuat Mam stres dengan perilakunya yang semakin hari semakin unik? Mam tidak perlu terlalu khawatir.
Saat usia telah melewati fase tumbuh kembang, biasanya dia sedang mempelajari berbagai macam emosi dan juga berbagai hal yang tidak dia mengerti. Permasalahan perilaku dan emosional wajar terjadi terutama di usia 2 hingga 3 tahun dan bahkan seterusnya.
Permasalahan anak usia dini merupakan bagian dari tumbuh kembangnya. Meski demikian, sebaiknya Mam tidak selalu memaklumi perilaku yang menjadi masalahnya sebab jika dibiarkan, maka dapat berujung pada Si Kecil memiliki kebiasaan buruk di masa depan.
Di sisi lain, pada umumnya permasalahan perilaku ini biasanya hanya sementara saja dan akan berkurang dan hilang seiring dengan perkembangan sosial dan emosional Si Kecil. Untuk paham lebih lanjut mengenai permasalahan anak usia dini simak informasi berikut ini!
Permasalahan Anak Usia Dini
Meski tidak selalu terjadi, namun umumnya permasalahan anak usia dini membuat meliputi hal-hal berikut yang sering terjadi pada Si Kecil, seperti:
Mengompol
Mengompol terjadi karena kandung kemih Si Kecil belum tumbuh dengan baik. Di luar itu, ada beberapa kemungkinan penyebab lainnya seperti ketidakseimbangan hormon, sembelit, mengalami stress dan kecemasan, riwayat mengompol di keluarga, atau mengalami ADHD.
Mam dapat melakukan beberapa hal untuk mengatasi masalah mengompol pada anak seperti mengatur waktu minum, menjadwalkan waktu buang air, mengurangi asupan yang mengganggu kandung kemih, atau tidur lebih awal, dan lainnya.
Sulit makan
Di masa pertumbuhan, tidak jarang Mam menghadapi permasalahan ketika Si Kecil susah makan. Anak susah makan adalah salah satu masalah yang umum terjadi pada anak usia dini. Alasannya beragam, salah satunya adalah selera makan Si Kecil berubah-ubah karena adanya percepatan pertumbuhan serta aktivitas yang beragam.
Kapasitas perut yang kecil dan masalah perhatian juga bisa menjadi faktor. Si Kecil mudah terdistraksi oleh banyak hal di sekitarnya, sehingga rentang perhatian dia saat makan sangat pendek karena adanya gangguan yang dapat mengalihkan perhatiannya.
Seiring bertambahnya usia, anak dapat mulai menolak makanan yang sebelumnya disukai, hanya ingin mengonsumsi beberapa jenis makanan tertentu, atau hanya mau makan jika setiap jenis makanan disajikan secara terpisah di piring.
Hal yang bisa Mam lakukan antara lain, mengurangi jumlah porsi makanan setiap kali makan. Di sela-sela waktu makan, Mam dapat mengisinya dengan memberikan camilan sehat seperti buah atau sayuran.
Selama Si Kecil mengonsumsi makanan yang sehat, Mam tidak perlu khawatir Si Kecil mengalami kelaparan karena anak memiliki pertimbangan yang baik terkait jumlah makanan yang mereka butuhkan.
Anak perlu diberikan kesempatan untuk mencoba makanan baru secara berulang karena mereka mungkin memerlukan 8–10 kali paparan sebelum bersedia menerima atau menyukai suatu makanan.
Jangan paksa Si Kecil untuk menghabiskan makanan karena itu akan membuatnya stres. Alih-alih, selalu apresiasi upayanya ketika mencoba makan satu sendok saja atau hanya satu teguk minuman saja.
Tantrum
Di usia satu hingga tiga tahun, Si Kecil baru belajar mengenali emosi diri yang ternyata sangat luas. Dia belum bisa mengekspresikannya dengan baik, meskipun dia memahami apa yang Mam katakan. Rasa frustrasi ini biasanya dilakukan dengan cara tantrum.
Tantrum pada anak sering muncul ketika Si Kecil belum mampu mengungkapkan keinginan, kebutuhan, atau perasaannya d engan baik. Bentuknya bisa menangis dengan kencang, berteriak, dan melempar-lempar benda yang ada di sekelilingnya.
Yang bisa Mam lakukan jika dihadapkan pada situasi seperti ini adalah tetap tenang dan tidak ikut memarahinya, serta mengenali pemicu tantrum.
Tatap matanya dalam-dalam sambil menurunkan badan agar setara dengannya lalu genggam tangannya dan erat.
Menunjukkan rasa sayang dengan sentuhan fisik dapat membuatnya merasa nyaman. Jika tidak berhasil, biarkan dia meluapkan emosinya dan beri dia penjelasan setelahnya. Selain itu, memberikan pilihan sederhana kepada anak dan membantu mereka belajar mengenali serta mengungkapkan emosinya juga dapat mendukung perkembangan kemampuan regulasi emosi.
Manja
Beberapa hal yang menandai anak manja seperti sering menolak makanan yang sudah disajikan. Dia selalu meminta makanan khusus dan jika tidak, dia akan menolak makan.
Anak yang manja biasanya akan berlaku seperti itu terus menerus. Selain itu, jika di usia 5-6 tahun Si Kecil masih sering tantrum ketika keinginannya tidak terpenuhi, itu jadi tanda lain anak manja.
Saat masih kecil, tantrum adalah cara mereka mengekspresikan diri, tapi di usia 5-6 tahun, tantrum adalah tindakan yang manipulatif.
Masalah manja juga dapat dilihat dari betapa bergantungnya mereka pada Mam. Contohnya seperti tidak bisa tidur tanpa ditemani Mam, atau mengamuk saat harus berangkat ke sekolah atau day care. Ketergantungan pada orang tua memang wajar, namun seiring dengan bertambahnya usia, maka dia harus belajar nyaman dengan orang lain maupun saat sendirian.
Untuk mengatasinya, biasakan untuk membatasi Si Kecil dari hal-hal yang dapat membahayakan keselamatannya. Beri tahu apa yang boleh dan tidak boleh terkait batasan keamanan. Lebih sering beri contoh perilaku sosial yang positif dan usahakan agar terbuka dengan Si Kecil mengenai perilaku.
Yang penting adalah menunjukkan konsistensi terhadap nilai-nilai yang Mam tanamkan agar Si Kecil mendapatkan contoh yang baik.
Pemalu
Sifat pemalu pada anak adalah sifat yang normal dan umum terjadi. Hal tersebut terjadi karena kemampuan sosialnya belum matang dan minim pengalaman dengan situasi sosial.
Dengan meningkatnya kemampuan serta pengalamannya dalam situasi sosial, sifat pemalu ini akan berangsur hilang, tapi tidak jarang berlangsung sekian lama. Sekitar 1 dari 5 anak bahkan tidak akan kehilangan sifat ini hingga dewasa. Yang bisa dilakukan adalah beradaptasi.
Tanda Si Kecil adalah anak pemalu biasanya ditunjukkan dengan dia tidak suka keramaian, selalu nempel pada Mam atau orang-orang terdekatnya di tempat bermain, dan dia enggan berpartisipasi pada aktivitas kelompok. Jika di atas usia 3 tahun sifat ini mengganggu kesehariannya, konsultasikan dengan dokter.
Di luar itu, Mam dapat melakukan beberapa hal, seperti hindari melabeli anak pemalu pada Si Kecil agar perasaan akan sifat menempel terus pada dirinya. Label pemalu juga dapat dijadikan tameng untuk menghindari situasi yang dianggap tidak nyaman.
Mam juga tak perlu menunjukkan bahwa malu adalah hal yang buruk dan jangan bandingkan dengan anak sebaya lainnya. Malu adalah problem sosial emosional yang dia hadapi, maka Mam dapat memilih teman bermain untuknya.
Jangan paksa Si Kecil bersosialisasi yang dapat membuatnya tertekan. Sebaiknya rencanakan playdate atau kelompok bermain dengan anak-anak yang dia merasa nyaman atau familiar saat berada di sekitarnya.
Selain itu, Mam dapat mencarikan teman bermain yang lebih muda dan tidak agresif agar dia juga nyaman.
Bangun kepercayaan diri Si Kecil sebelum mulai bermain. Di perjalanan, bocorkan kisi-kisi mengenai apa yang akan dilakukan di sana sehingga dia tahu apa yang akan dia lakukan.
Usahakan jangan tiba terlambat saat sudah ramai dan bantu proses ice breaking jika Si Kecil terlihat ragu-ragu untuk bergabung dengan yang lainnya.
Nah, Mam berperan besar untuk menjaga perilaku Si Kecil agar tidak terlalu sering dihadapkan pada masalah-masalah seperti ini. Apalagi di usia tumbuh kembangnya, yang mana jika diabaikan, permasalahan ini dapat terjadi lagi di kemudian hari.
Berpisah
Separation anxiety atau kecemasan saat berpisah dengan orang tua merupakan hal yang wajar dialami Si Kecil. Pada fase ini, ia mulai memahami bahwa orang tua dapat pergi, tetapi belum sepenuhnya mengerti bahwa Mam akan kembali.
Akibatnya, Si Kecil mungkin menangis saat harus berpisah atau ingin terus berada di dekat orang tua. Rasa cemas tersebut juga dapat terbawa hingga waktu tidur sehingga anak susah tidur sendiri atau sering terbangun di malam hari untuk mencari kehadiran Mam.
Meski begitu, kondisi ini merupakan bagian normal dari perkembangan emosional anak dan biasanya akan berangsur membaik seiring bertambahnya usia.
Mam dapat membantu Si Kecil melewati fase ini dengan membiasakan berpamitan sebelum pergi, menepati janji untuk kembali, serta memberikan respons yang hangat dan konsisten agar ia merasa aman.
Cara Merespons Perilaku Anak dengan Tepat
Di balik perilaku Si Kecil, biasanya ada emosi atau kebutuhan yang belum bisa ia sampaikan dengan kata-kata. Karena itu, sebelum bereaksi, cobalah pahami dulu apa yang sebenarnya sedang dirasakan atau dibutuhkannya.
Beberapa cara yang bisa Mam lakukan, antara lain:
● Coba kenali apa yang sedang dirasakan Si Kecil, misalnya marah, kecewa, takut, atau frustrasi.
● Tunjukkan bahwa Mam memahami perasaannya, misalnya dengan mengatakan, "Mama tahu kamu sedang sedih."
● Bantu Si Kecil belajar mengenali dan menyebutkan emosinya agar lama-kelamaan ia dapat mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata.
● Tetapkan aturan dan rutinitas yang jelas agar Si Kecil memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
● Berikan pujian saat Si Kecil menunjukkan perilaku yang baik, lalu ingatkan dengan tenang jika ia melakukan kesalahan.
● Usahakan seluruh anggota keluarga menerapkan aturan yang sama agar Si Kecil tidak bingung.
Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Psikolog?
Sebagian besar perilaku yang telah dibahas merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak. Namun, Mam sebaiknya berkonsultasi dengan Psikolog atau tenaga kesehatan apabila perilaku tersebut berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Evaluasi juga diperlukan apabila Si Kecil:
● Belum mencapai tonggak perkembangan (milestone) sesuai usianya.
● Kehilangan kemampuan yang sebelumnya telah dikuasai.
● Ada indikasi gangguan perkembangan kognitif yang membuat anak kesulitan memahami arahan, berkomunikasi, atau berinteraksi dengan orang lain.
● Menunjukkan perilaku yang membuat Mam khawatir terhadap tumbuh kembangnya.
Deteksi dan intervensi sejak dini dapat membantu menemukan penyebab masalah serta memberikan penanganan yang sesuai agar tumbuh kembang Si Kecil tetap optimal.
Selain memberikan stimulasi yang konsisten, pastikan kebutuhan nutrisi Si Kecil juga terpenuhi untuk mendukung proses tumbuh kembang dan belajarnya setiap hari.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memberikan susu pertumbuhan yang mengandung berbagai zat gizi penting untuk mendukung tumbuh kembang anak.
S-26 Procal Nutrissentials hadir dengan Kolin, AHA, DHA, Alfa-Laktalbumin, Omega 3 & 6, dilengkapi vitamin serta mineral untuk dukung perkembangan otak, daya tahan tubuh, dan pertumbuhan si Kecil setiap hari. Dukung belajar pintar si Kecil dengan tubuh dan otak yang optimal.
Pertanyaan Seputar Permasalahan Anak Usia Dini
Mengapa anak usia dini sering mengalami tantrum?
Tantrum sering terjadi karena Si Kecil belum mampu mengungkapkan keinginan atau emosi besarnya lewat kata-kata. Selain itu, kemampuan mengendalikan emosi pada anak usia dini memang masih dalam tahap berkembang.Bagaimana cara menghadapi anak yang tidak mau ditinggal pergi?
Biasakan berpamitan sebelum pergi, hindari meninggalkan Si Kecil secara diam-diam, serta yakinkan bahwa Mam akan kembali.- Apa tanda-tanda masalah perkembangan balita yang harus diwaspadai?
Berkonsultasi dengan dokter jika Si Kecil belum mencapai milestone sesuai usianya, kehilangan kemampuan yang sebelumnya telah dikuasai, atau menunjukkan perubahan perilaku yang menetap hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Referensi
- CDC. (2026). Picky Eaters and What to Do. CDC. https://www.cdc.gov/infant-toddler-nutrition/foods-and-drinks/picky-eaters.html
- Armstrong, M., Donohue, M., & Guthrie, C. (2022). Temper Tantrums. Healthline. https://www.healthline.com/health/temper-tantrums
- Healthy Children. (2022). Separation Anxiety & Sleeping Trouble in Young Children. HealthyChildren. https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/sleep/Pages/Separation-Anxiety-and-Sleeping.aspx
- Wu, Q., & Hooper, E. G. (2023). White and Black parents' emotion coaching beliefs: Differential associations with preschooler's behavioral problem tendencies. Journal of family psychology : JFP : journal of the Division of Family Psychology of the American Psychological Association (Division 43), 37(4), 486–496. https://doi.org/10.1037/fam0001089
- CDC. (2026). Essentials for Parenting Toddlers and Preschoolers. CDC. https://www.cdc.gov/parenting-toddlers/about/index.html
- CDC. (2026). Concerned About Your Child's Development? CDC. https://www.cdc.gov/act-early/families/concerned.html
Produk wyeth nutrition

