penyakit kuning pada bayi

Penyakit Kuning pada Bayi: Penyebab, Tanda, dan Cara Menanganinya

Okt 30, 2026
Listen Transcript

Penyakit Kuning pada Bayi: Penyebab, Tanda, dan Cara Menanganinya

Penyakit kuning pada bayi (ikterus neonatorum) adalah kondisi kulit dan bagian putih mata bayi menguning akibat tingginya kadar bilirubin dalam darah. Kondisi ini umum pada bayi baru lahir, biasanya paling terlihat di usia sekitar 3 hari dan hilang dalam 2 minggu. Namun, kuning yang muncul sebelum usia 24 jam, makin pekat, atau disertai bayi lemas perlu segera diperiksakan ke dokter.

Penyakit kuning pada bayi adalah salah satu kondisi yang cukup umum muncul terutama pada bayi baru lahir. Sebenarnya, Mam tidak perlu langsung panik, sebab bayi kuning tidak selalu jadi tanda ada kondisi yang salah dan akan hilang dengan sendirinya.

Memahami tanda bayi kuning yang normal bisa membantu Mam lebih tenang dalam mengasuh si Kecil dan menikmati setiap momen tumbuh kembangnya.

Apa Itu Penyakit Kuning (Jaundice) pada Bayi?

Penyakit kuning, alias jaundice, pada bayi baru lahir adalah kondisi menguningnya warna kulit dan mata bayi. Kondisi ini termasuk normal untuk bayi yang baru lahir.

Penyakit kuning pada bayi terjadi karena kelebihan bilirubin di dalam tubuh bayi. Biasanya, si Kecil akan mulai tampak menguning setelah dua hari dilahirkan.

Umumnya, kuning pada bayi hilang dengan sendirinya dalam 2 minggu, atau pada bayi prematur bisa mencapai 3 minggu. Ini adalah tanda bayi kuning yang masih normal.

Dalam istilah medis, kondisi ini disebut ikterus neonatorum atau hiperbilirubinemia. Pedoman tata laksana hiperbilirubinemia dari Kementerian Kesehatan RI menyebutkan sebagian besar hiperbilirubinemia pada bayi bersifat fisiologis dan tidak membutuhkan terapi khusus. Meski begitu, ada juga kuning patologis yang dipicu kondisi medis tertentu dan perlu penanganan dokter.

Penyebab Kuning pada Bayi Baru Lahir

Penyebab utama penyakit kuning pada bayi adalah kadar bilirubin yang berlebih di dalam darah. Bilirubin adalah zat berpigmen kuning yang dilepaskan ke aliran darah saat sel darah merah dipecah.

Pemecahan sel darah merah akan menghasilkan bilirubin. Normalnya, bilirubin akan disaring oleh hati dan dikeluarkan dari tubuh lewat feses. Dengan demikian, bilirubin tidak menumpuk di peredaran darah.

Nah, bayi baru lahir biasanya memiliki kadar sel darah merah yang tinggi. Pada saat baru lahir ini juga proses pemecahan sel darah merah berlangsung sangat cepat. Itulah yang menyebabkan bilirubin dari sel darah merah menumpuk dalam darah.

Ditambah lagi, pada saat baru lahir, organ hati si Kecil belum berkembang secara sempurna. Akibatnya, proses penyaringan bilirubin di hati juga tidak maksimal dan menyebabkan penyakit kuning pada bayi.

Sekalipun ini umum terjadi pada kebanyakan bayi baru lahir, ada beberapa faktor yang meningkatkan risikonya, seperti:

  • Lahir prematur, sebelum usia 37 minggu
  • Kurang asupan cairan, terutama ASI
  • Berbeda golongan darah dengan ibu
  • Memar yang cukup banyak saat proses persalinan

Selain penyebab fisiologis di atas, Mayo Clinic menyebut kuning pada bayi juga bisa dipicu kondisi lain yang perlu penanganan medis, seperti:

  • Perdarahan di dalam tubuh
  • Infeksi darah (sepsis) atau infeksi virus dan bakteri lainnya
  • Ketidakcocokan antara darah ibu dan bayi
  • Gangguan fungsi hati
  • Atresia bilier, yaitu saluran empedu bayi tersumbat atau rusak
  • Kekurangan enzim tertentu
  • Kelainan sel darah merah yang membuatnya cepat pecah

Kuning yang disebabkan kondisi-kondisi ini disebut ikterus patologis. Biasanya, kondisi ini disertai tanda bahaya yang dibahas di bagian selanjutnya.

Gejala Bayi Kuning dan Kadar Bilirubinnya

Warna kulit yang berubah kekuningan adalah ciri bayi kuning yang paling umum dan normal terjadi. Selain itu, berikut ini juga termasuk tanda bayi kuning yang normal dan tidak berbahaya:

  • Kekuningan di kulit, biasanya mulai dari wajah dan kepala, juga di bagian putih mata dan bagian dalam mulut
  • Kuning paling terlihat di sekitar usia 3 hari, lalu berangsur memudar
  • si Kecil tetap mau menyusu dan buang air kecil seperti biasa

Hal-hal di atas merupakan tanda bayi kuning yang normal terutama jika kemudian membaik dengan sendirinya dalam 2 minggu.

Perlu Mam ingat, urine yang berwarna kuning pekat atau cokelat dan feses yang pucat seperti dempul bukan tanda bayi kuning yang normal. Menurut NHS, kondisi ini perlu segera diperiksakan ke dokter. Untuk panduan lengkap membedakannya, Mam bisa membaca tanda bayi kuning yang normal dan tidak normal.

Selain lewat tanda-tanda di atas, Mam juga bisa memastikan penyakit kuning pada bayi termasuk normal lewat tes darah jika inilah yang dianjurkan dokter.

Kadar bilirubin bayi akan berada pada level paling tinggi 3-5 hari pertama kelahirannya. Jumlahnya ini akan berubah seiring dengan usianya bertambah besar.

Sebagai gambaran, kadar bilirubin berikut umumnya sudah tergolong tinggi dan perlu evaluasi dokter :

  • Kurang dari 24 jam: di atas 10 mg/dL
  • Usia 24-48 jam: di atas 15 mg/dL
  • Usia 49-72 jam: di atas 18 mg/dL
  • Usia 72 jam lebih: di atas 20 mg/dL

Biasanya, dokter juga akan melakukan pemantauan pada 72 jam pertama untuk memastikan bahwa tanda bayi kuning yang normal dan tidak bahaya.

Kapan Harus Khawatir dan Konsultasi ke Dokter?

Sangat wajar jika Mam bingung dan tidak yakin mengenai tanda bayi kuning yang normal atau tidak. Beberapa ciri bayi kuning yang perlu Mam waspadai, antara lain:

  • Warna kuning pada bayi menjadi lebih pekat
  • Bagian putih mata menjadi kuning (tidak hanya kekuningan)
  • Kulit di area perut, tangan, dan kaki terlihat kuning
  • Tampak lesu dan sulit dibangunkan dari tidur
  • Tidak bertambah berat badan atau susah makan
  • Menangis dengan nada tinggi
  • Tidak buang air kecil, ditandai dengan popok yang kering atau tidak mengompol
  • Demam
  • Kuning sudah tampak saat si Kecil berusia kurang dari 24 jam
  • Urine berwarna kuning pekat atau cokelat (urine bayi baru lahir seharusnya hampir tidak berwarna)
  • Feses berwarna pucat seperti dempul atau krem
  • Tubuh tampak terkulai lemas atau justru kaku, atau muncul gerakan menyentak
  • Masih tampak kuning saat si Kecil berusia 3 minggu atau lebih

Cara Menangani Bayi Kuning di Rumah

Penyakit kuning pada bayi baru lahir cenderung umum terjadi dan bukanlah kondisi yang perlu Mam khawatirkan. Namun, tentu saja ada yang bisa Mam lakukan.

Untuk kuning yang tergolong normal, berikut langkah yang bisa Mam lakukan di rumah. Langkah-langkah ini sekaligus menjadi bagian dari cara mencegah bayi kuning agar tidak bertambah berat:

1. Minum Susu Lebih Sering

Cara mengatasi bayi kuning yang dapat Mam lakukan di rumah adalah dengan memberinya ASI lebih sering, sekitar 8-12 kali atau kapan pun bisa, bahkan membangunkannya untuk menyusu bila perlu.

Sebab, memberikan ASI pada si Kecil dapat merangsangnya untuk buang air besar, yang bisa membantu membuang bilirubin berlebih.

2. Hindari Memberi Air Putih atau Air Gula

AAP tidak merekomendasikan pemberian air atau cairan dekstrosa untuk mencegah maupun menurunkan kadar bilirubin. Cukup berikan ASI sesuai kebutuhan si Kecil.

3. Tidak Perlu Menjemur si Kecil

Pedoman Kementerian Kesehatan RI menyatakan paparan sinar matahari secara langsung tidak direkomendasikan untuk mencegah hiperbilirubinemia yang berat. Jika kadar bilirubin perlu diturunkan, dokter akan memberikan fototerapi dengan alat khusus.

4. Pantau Warna Kulit, Urine, dan Feses Setiap Hari

Cek warna kulit si Kecil di bawah cahaya alami setiap hari, lalu perhatikan warna urine dan fesesnya di popok. Segera ke dokter bila kuning makin pekat atau menyebar, urine berwarna kuning pekat atau cokelat, atau feses tampak pucat seperti dempul.

5. Konsultasikan ke Dokter Bila Ragu

Jika Mam khawatir dan ragu, tak ada salahnya berkonsultasi ke dokter. Selain memberikan kepastian, Mam juga bisa jadi lebih tenang.

Jika dibutuhkan, dokter juga akan merekomendasikan beberapa pengobatan yang sesuai, seperti fototerapi.

Baca Juga : Macam-macam penyakit Pada Baru Lahir yang Sering Terjadi

Bahaya Bayi Kuning yang Tidak Ditangani

Meski jarang, kadar bilirubin yang sangat tinggi dan tidak segera ditangani dapat masuk ke otak dan menyebabkan ensefalopati bilirubin akut. Menurut Mayo Clinic, tandanya antara lain bayi lesu dan sulit dibangunkan, menangis dengan nada tinggi, malas menyusu, leher dan tubuh melengkung ke belakang, serta demam.

Jika berlanjut menjadi kernikterus, kerusakan otak dapat bersifat permanen, misalnya berupa gerakan tubuh yang tidak terkendali, pandangan mata yang terus mengarah ke atas, gangguan pendengaran, dan email gigi yang tidak berkembang dengan baik. Karena itu, jangan menunda pemeriksaan bila Mam melihat tanda bahaya.

Cara Mencegah Bayi Kuning

Bayi kuning fisiologis tidak selalu bisa dicegah, tetapi risiko kuning yang berat bisa ditekan dengan langkah-langkah berikut:

1. Pastikan Asupan ASI Cukup Sejak Hari Pertama

P terbaik adalah asupan yang cukup. Bayi yang menyusu ASI sebaiknya disusui 8-12 kali sehari di hari-hari pertama kehidupannya.

2. Pastikan si Kecil Dipantau Sebelum Pulang dari Rumah Sakit

AAP menganjurkan setiap bayi diperiksa tanda kuningnya setidaknya setiap 12 jam sejak lahir hingga pulang, dan keluarga mendapat edukasi tentang bayi kuning sebelum pulang. Jangan ragu bertanya kepada dokter atau bidan sebelum meninggalkan rumah sakit.

3. Kenali Faktor Risikonya

Beri tahu dokter bila si Kecil lahir prematur, golongan darah Mam dan si Kecil berbeda, atau ada memar yang cukup banyak saat persalinan. Dengan begitu, pemantauan kuning bisa dilakukan lebih ketat.

4. Datang ke Jadwal Kontrol

Setelah di rumah, pastikan Mam datang ke jadwal kontrol yang dianjurkan dokter atau bidan, terutama di minggu pertama kehidupan si Kecil saat kuning paling sering muncul.

Pertanyaan Seputar Penyakit Kuning pada Bayi

1. Apakah semua bayi berisiko terkena penyakit kuning?

Bayi baru lahir memiliki risiko alami terkena penyakit kuning, terutama bayi prematur atau bayi yang kekurangan ASI. Faktor seperti golongan darah yang tidak cocok antara ibu dan bayi juga dapat meningkatkan risiko.

2. Bagaimana cara mengenali gejala penyakit kuning pada bayi di rumah?

Gejala penyakit kuning mudah dikenali, seperti kulit dan mata bayi tampak kuning. Perhatikan pula jika bayi menjadi lebih rewel, sulit menyusu, atau mengalami perubahan warna urin dan feses.

3. Apakah penyakit kuning pada bayi dapat diobati?

Ya, penyakit kuning pada bayi umumnya bisa diobati. Perawatan biasanya mencakup fototerapi (terapi cahaya) atau pemberian ASI lebih sering untuk membantu tubuh bayi mengeluarkan bilirubin. Namun, untuk kasus berat, bayi mungkin memerlukan transfusi darah atau perawatan khusus lainnya.

Source

Mayo Clinic. Infant jaundice - Symptoms & causes. Dari: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/infant-jaundice/symptoms…. Diakses pada 16 Juli 2025

Cleveland Clinic. Jaundice in Newborns: Symptoms, Causes & Treatment. Dari: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22263-jaundice-in-newbor…. Diakses pada 16 Juli 2025

NHS. Newborn jaundice. Dari: https://www.nhs.uk/conditions/jaundice-newborn/. Diakses pada 16 Juli 2025

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/240/2019 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hiperbilirubinemia. Dari: https://keslan.kemkes.go.id/unduhan/fileunduhan_1610349726_94555.pdf. Diakses pada 9 Oktober 2026


Kemper, A. R., et al. Clinical Practice Guideline Revision: Management of Hyperbilirubinemia in the Newborn Infant 35 or More Weeks of Gestation. Pediatrics, 2022. Dari: https://doi.org/10.1542/peds.2022-058859. Diakses pada 9 Oktober 2026

Produk wyeth nutrition

Optimalkan Milestone & Perkembangan Otak si Kecil
Optimalkan Milestone & Perkembangan Otak si Kecil