Mengenali Tahapan Tumbuh Kembang Anak Usia Batita

Tahap Tumbuh Kembang Anak dari Bayi Hingga Masa Golden Age

Agu 18, 2026
4 mins
Listen Transcript

Tahap Tumbuh Kembang Anak dari Bayi Hingga Masa Golden Age

Melihat Si Kecil tumbuh dan bertambah pintar setiap harinya tentu menjadi kebahagiaan. Fase awal kehidupan ini sering kali disebut sebagai golden age anak usia dini. Di masa emas ini, otak dan tubuh Si Kecil berkembang dengan sangat pesat.

 

Apa Saja Tahap Tumbuh Kembang Bayi?

Mam perlu tahu bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak adalah dua hal yang berbeda, tetapi selalu berkaitan dan sulit dipisahkan.

Pertumbuhan (growth) adalah perubahan yang bersifat kuantitatif atau dapat diukur. Pertumbuhan biasanya menyangkut ukuran dan struktur biologis pada tubuh anak, seperti tinggi badan dan berat badan. Sementara yang dimaksud dengan perkembangan (development) adalah perubahan kuantitatif dan kualitatif yang meliputi bertambahnya kemampuan (skill) struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks.

Perkembangan terjadi dalam pola yang teratur seiring dengan proses pematangan/maturitas anak.

Agar Mam bisa memantau apakah tahapan tumbuh kembang anak sudah berjalan sesuai dengan usianya, mari kita bedah detail perkembangannya dari usia 1 hingga 3 tahun di bawah ini:

 

Tabel Pertumbuhan Fisik Anak Laki-Laki dan Perempuan Berdasarkan Standar Antropometri

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2020), pertumbuhan fisik dan status gizi anak dinilai berdasarkan hasil pengukuran berat badan, panjang atau tinggi badan, usia, dan jenis kelamin. Standar Antropometri Anak di Indonesia mengacu pada WHO Child Growth Standards untuk anak usia 0–5 tahun serta WHO Reference 2007 untuk anak usia di atas 5–18 tahun.

Tabel dan kurva pertumbuhan anak laki-laki dan perempuan dibuat secara terpisah karena pola pertumbuhan serta nilai rujukannya berbeda. Oleh karena itu, hasil pengukuran anak laki-laki harus dibandingkan dengan tabel anak laki-laki, sedangkan hasil pengukuran anak perempuan harus menggunakan tabel anak perempuan sesuai usia dan jenis indeks antropometrinya.

WHO menyediakan kurva khusus anak laki-laki dan perempuan untuk BB/U, PB/U atau TB/U, BB/PB atau BB/TB, serta IMT/U.

Berikut indeks yang digunakan untuk menilai pertumbuhan fisik dan status gizi anak:

 

Indeks AntropometriUsiaKegunaan
Berat Badan menurut Umur atau BB/U0–60 bulanMembandingkan berat badan anak dengan usianya untuk mengenali berat badan sangat kurang, berat badan kurang, berat badan normal, atau risiko berat badan lebih.
Panjang atau Tinggi Badan menurut Umur atau PB/U–TB/U0–60 bulanMembandingkan panjang atau tinggi badan anak dengan usianya untuk mengenali kondisi sangat pendek, pendek, normal, atau tinggi.
Berat Badan menurut Panjang atau Tinggi Badan atau BB/PB–BB/TB0–60 bulanMenilai apakah berat badan anak sesuai dengan panjang atau tinggi badannya serta membantu mengenali gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, risiko gizi lebih, gizi lebih, atau obesitas.
Indeks Massa Tubuh menurut Umur atau IMT/U0–60 bulanMenilai status gizi anak sekaligus membantu menapis risiko gizi lebih dan obesitas.
Indeks Massa Tubuh menurut Umur atau IMT/UDi atas 5–18 tahunMenilai status gizi anak usia sekolah dan remaja, mulai dari gizi buruk hingga obesitas.

 

Indeks BB/U tidak dapat digunakan sendiri untuk memastikan bahwa anak mengalami gizi kurang, gizi lebih, atau obesitas. Anak yang memiliki BB/U rendah, misalnya, belum tentu mengalami gizi kurang karena ia mungkin juga memiliki panjang atau tinggi badan yang pendek. Karena itu, hasil BB/U perlu dilihat bersama PB/U atau TB/U, BB/PB atau BB/TB, dan IMT/U.

 

Kategori Status Gizi Anak Berdasarkan Z-Score

Z-score menunjukkan posisi hasil pengukuran anak dibandingkan dengan nilai tengah atau median pertumbuhan anak sehat dengan usia dan jenis kelamin yang sama.

 

IndeksKategori Status GiziAmbang Batas
BB/U usia 0–60 bulanBerat badan sangat kurang< -3 SD
 Berat badan kurang-3 SD sampai < -2 SD
 Berat badan normal-2 SD sampai +1 SD
 Risiko berat badan lebih> +1 SD
PB/U atau TB/U usia 0–60 bulanSangat pendek< -3 SD
 Pendek-3 SD sampai < -2 SD
 Normal-2 SD sampai +3 SD
 Tinggi> +3 SD
BB/PB, BB/TB, atau IMT/U usia 0–60 bulanGizi buruk< -3 SD
 Gizi kurang-3 SD sampai < -2 SD
 Gizi baik-2 SD sampai +1 SD
 Berisiko gizi lebih> +1 SD sampai +2 SD
 Gizi lebih> +2 SD sampai +3 SD
 Obesitas> +3 SD
IMT/U usia di atas 5–18 tahunGizi buruk< -3 SD
 Gizi kurang-3 SD sampai < -2 SD
 Gizi baik-2 SD sampai +1 SD
 Gizi lebih> +1 SD sampai +2 SD
 Obesitas> +2 SD

 

Ambang batas Z-score tersebut sama-sama digunakan untuk anak laki-laki dan perempuan. Namun, angka berat badan, tinggi badan, dan IMT pada setiap garis Z-score berbeda menurut jenis kelamin dan usia. Oleh karena itu, Mam tidak dapat menilai pertumbuhan si Kecil hanya berdasarkan rentang angka umum tanpa menggunakan tabel atau kurva yang sesuai.

 

Cara Memplot Status Gizi Anak dengan Benar

Mam dapat memantau pertumbuhan si Kecil menggunakan grafik dalam Buku KIA atau Kartu Menuju Sehat. Namun, perlu dipahami bahwa grafik BB/U pada KMS terutama digunakan untuk memantau arah pertumbuhan berat badan. Penentuan status gizi secara menyeluruh tetap perlu mempertimbangkan seluruh indeks antropometri dan dikonfirmasi oleh tenaga kesehatan.

Berikut cara memplot pertumbuhan dan status gizi anak dengan benar:

1. Pilih Grafik Sesuai Jenis Kelamin

Gunakan grafik anak laki-laki untuk anak laki-laki dan grafik anak perempuan untuk anak perempuan. Jangan menggunakan grafik yang berbeda jenis kelamin karena nilai rujukannya tidak sama.

2. Pilih Grafik Sesuai Usia Anak

Pastikan grafik yang digunakan sesuai dengan kelompok usia si Kecil, misalnya grafik usia 0–24 bulan, 24–60 bulan, atau grafik untuk anak usia di atas 5 tahun.

Usia anak dihitung dalam bulan penuh. Sebagai contoh, anak berusia 2 bulan 29 hari tetap dihitung berusia 2 bulan ketika hasil pengukurannya dibandingkan dengan Standar Antropometri Anak.

3. Ukur Berat dan Panjang atau Tinggi Badan dengan Benar

Berat badan anak perlu diukur menggunakan timbangan yang sesuai, diletakkan di permukaan datar, dan menunjukkan angka nol sebelum digunakan. Sebaiknya lepaskan sepatu, jaket, serta benda berat lainnya agar hasil pengukuran lebih akurat.

Anak usia 0–24 bulan diukur panjang badannya dalam posisi terlentang. Sementara itu, anak berusia di atas 24 bulan diukur tinggi badannya dalam posisi berdiri.

Apabila anak usia 0–24 bulan terpaksa diukur dalam posisi berdiri, tambahkan 0,7 cm pada hasil pengukurannya. Sebaliknya, jika anak berusia di atas 24 bulan diukur dalam posisi terlentang, kurangi hasil pengukurannya sebanyak 0,7 cm.

Baca Juga : Mam, Simak Pertumbuhan Anak dengan Grafik Tumbuh Kembang Ini

4. Tentukan Indeks yang Akan Dinilai

Gunakan grafik yang sesuai dengan tujuan pemantauan:

  • BB/U: usia anak pada sumbu mendatar dan berat badan pada sumbu tegak.
  • PB/U atau TB/U: usia anak pada sumbu mendatar dan panjang atau tinggi badan pada sumbu tegak.
  • BB/PB atau BB/TB: panjang atau tinggi badan pada sumbu mendatar dan berat badan pada sumbu tegak.
  • IMT/U: usia anak pada sumbu mendatar dan nilai IMT pada sumbu tegak.

IMT dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter.

5. Temukan Titik Pertemuan Hasil Pengukuran

Untuk memplot BB/U, cari usia anak pada sumbu mendatar. Kemudian, cari berat badan anak pada sumbu tegak. Tarik garis imajiner dari kedua angka tersebut dan berikan tanda titik pada tempat keduanya bertemu.

Cara yang sama dapat digunakan pada grafik lainnya dengan menyesuaikan indikator pada sumbu mendatar dan tegak.

6. Catat Setiap Hasil Pengukuran

Berikan tanda titik setiap kali si Kecil ditimbang atau diukur. Hubungkan titik pengukuran terbaru dengan titik sebelumnya sehingga terbentuk garis pertumbuhan.

Pencatatan secara rutin membantu Mam melihat apakah berat dan tinggi badan si Kecil terus bertambah serta mengikuti jalur pertumbuhannya.

7. Perhatikan Arah Garis Pertumbuhan

Anak tidak harus selalu berada tepat pada garis median atau 0 SD. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah grafiknya menunjukkan pertumbuhan yang mengikuti jalur secara konsisten.

Pada grafik BB/U, pertumbuhan umumnya dianggap naik apabila garis yang menghubungkan titik terbaru dengan titik sebelumnya mengikuti jalur pertumbuhan. Sebaliknya, garis yang mendatar, menurun, atau tidak mengikuti jalur pertumbuhan perlu dikonfirmasi oleh tenaga kesehatan.

Anak dengan BB/U antara -2 SD sampai +1 SD masih termasuk dalam rentang normal. Meskipun demikian, tren pertumbuhannya tetap perlu diperhatikan karena satu titik pengukuran belum cukup untuk menggambarkan kondisi pertumbuhan anak secara menyeluruh.

8. Baca Posisi Titik terhadap Garis Z-Score

Perhatikan posisi titik pengukuran terhadap garis -3 SD, -2 SD, median, +1 SD, +2 SD, dan +3 SD. Posisi tersebut menunjukkan kategori hasil pengukuran berdasarkan indeks yang digunakan.

Sebagai contoh, hasil BB/TB di antara -2 SD sampai +1 SD termasuk gizi baik. Sementara itu, hasil BB/TB di bawah -2 SD menunjukkan gizi kurang dan hasil di atas +2 SD menunjukkan gizi lebih.

9. Interpretasikan Seluruh Indeks Secara Bersamaan

Jangan menentukan status gizi hanya berdasarkan BB/U. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, penilaian perlu mempertimbangkan:

  • BB/U untuk melihat berat badan dibandingkan usia.
  • PB/U atau TB/U untuk melihat pertumbuhan panjang atau tinggi badan.
  • BB/PB atau BB/TB untuk melihat kesesuaian berat badan dengan panjang atau tinggi badan.
  • IMT/U untuk membantu menilai gizi kurang, gizi lebih, dan obesitas.

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa seluruh indeks antropometri perlu dilihat bersama agar masalah pertumbuhan yang sebenarnya dapat dikenali dan ditangani dengan tepat.

10. Konsultasikan Hasil yang Tidak Sesuai

Bawa Buku KIA dan konsultasikan hasil pengukuran kepada kader atau tenaga kesehatan apabila:

  • BB/U berada di bawah -2 SD atau di atas +1 SD.
  • PB/U atau TB/U berada di bawah -2 SD atau di atas +3 SD.
  • BB/PB atau BB/TB berada di bawah -2 SD atau di atas +1 SD.
  • IMT/U berada di bawah -2 SD atau di atas +1 SD.
  • Garis pertumbuhan mendatar, menurun, atau tidak mengikuti jalur pertumbuhan.
  • Berat atau tinggi badan anak tidak bertambah.
  • Anak mengalami penurunan berat badan.

Pemantauan pertumbuhan tidak cukup dilakukan melalui satu kali pengukuran. Pengukuran dan plotting perlu dilakukan secara berkala agar perubahan arah pertumbuhan dapat diketahui sejak dini. Buku KIA sebaiknya selalu dibawa ketika Mam mengunjungi Posyandu, Puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan lainnya.

 

Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik dibagi dua, yaitu motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan si Kecil. 

Contoh perkembangan motorik kasar yaitu kemampuan berguling, telungkup, duduk, menendang, berlari, naik-turun tangga, melompat, dan sebagainya.

Sementara, yang dimaksud dengan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu. Misalnya, kemampuan menggenggam benda, memindahkan benda dari tangan, mencorat-coret, menggunting, menyusun balok, dan lain sebagainya.

Fase tumbuh kembang anak usia batita yang baik dan sehat adalah yang berlangsung sesuai dengan tahapan usianya (milestones). Misalnya, saat si Kecil berusia 12-18 bulan ia sudah bisa berdiri sendiri tanpa berpegangan. Atau, pada usia 18 bulan ia sudah mampu bertepuk dan melambaikan tangan.

Mam dapat mendukung stimulasi kemampuan motorik sesuai tahap tumbuh kembang bayi . Sebagai contoh, tahap tumbuh kembang bayi usia 3 bulan untuk aspek motorik adalah menggerakkan kaki dan tangan serta kepala. Bantu si Kecil dengan memainkan jari-jari, memutar-mutar pergelangan kaki, hingga menelentangkan di permukaan yang datar dan aman (tummy time).

Pada usia 0-6 bulan, ajaklah si Kecil mengikuti suara musik atau mainan hingga ajak si Kecil mengikuti kepala atau arah mata Mam.

Pada 6-12 bulan, berikanlah mainan sehingga si Kecil berusaha meraihnya hingga dudukkan di dekat furniture agar si Kecil berusaha berdiri dengan berpegangan. 

Baca Juga : 3 Kebutuhan Pokok untuk Optimalkan Tumbuh Kembang si Kecil

 

Perkembangan Kognitif

Perkembangan ini berkaitan dengan pengetahuan, atau bagaimana si Kecil mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Proses tumbuh kembang anak ini sudah berlangsung sejak si Kecil dilahirkan lho, Mam. Bayi memiliki kemampuan menyimpan informasi yang berasal dari penglihatan, pendengaran, dan melalui indera lainnya. Bukan hanya itu, si Kecil juga mampu merespon berbagai informasi tersebut secara sistematis.

Beberapa ciri tumbuh kembang anak batita dari sisi kognitif:

0-12 bulan

Mulai mengembangkan konsep (misalnya sadar akan  rasa lapar), senang bermain, minat terhadap lingkungan meningkat, memahami sebab akibat, memahami objek, mengeksplorasi sekitar, mengeksplorasi benda dengan bermacam cara (misalnya memasukkan benda ke dalam mulut), dan dapat bermain dengan pola yang simpel.

Mam dapat menstimulasi si Kecil dengan membacakan buku berwarna cerah, memberikan ikatan emosi dan rangsangan sosial, serta memberikan manian berbeda tekstur, bentuk, dan ukuran.

12-24 bulan

Dapat menemukan objek yang disembunyikan, dapat merespon instruksi sederhana, mengetahui bagian-bagian tubuhnya, dapat bermain pura-pura, belajar makan-minum sendiri, dan menirukan pekerjaan rumah tangga.

Mam dapat menstimulasi si Kecil dengan bermain puzzle sederhana, bacakan buku dan lagu bersama-sama, hingga berikan mainan dengan berbagai bentuk dan warna.

24-36 bulan

Dapat menunjuk satu atau lebih bagian tubuhnya bila diminta, dapat menyebut dengan benar nama dua benda atau lebih, mampu menggabungkan dua kata menjadi kalimat, dan menggunakan nama sendiri untuk menyebut dirinya.

Mam dapat menstimulasi si Kecil dengan memberikan puzzle yang lebih kompleks, bermain peran atau berpura-pura menjadi tokoh tertentu, hingga mengajak bercerita dengan pengalaman sendiri.

 

Perkembangan Bahasa

Fase perkembangan anak juga meliputi kemampuan berbicara dan berbahasa. Kemampuan berbahasa dapat menjadi indikator seluruh perkembangan anak lho, Mam. Melalui kemampuan berbahasa si Kecil, Mam dapat mendeteksi keterlambatan ataupun kelainan pada sistem lain, seperti kemampuan kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi, dan lingkungan di sekitar anak.

Beberapa ciri perkembangan bahasa pada batita:

0-12 bulan

Merespons terhadap suara, menunjukkan ketertarikan sosial terhadap wajah dan orang, babbling (mengulang konsonan/vokal), memahami perintah verbal, dan mampu menunjuk ke arah yang diinginkan.

Mam bisa terus mengajak bicara si Kecil. Seiring bertambahnya usia, anak akan mulai merespons dengan mengeluarkan suara. Mam juga bisa mulai mengenalkan nama si Kecil dan benda-benda di sekitarnya.

12-24 bulan

Mampu memproduksi dan memahami kata-kata tunggal, mampu menunjuk bagian-bagian tubuh, perbendaharaan kata meningkat pesat, dan mampu mengucapkan kalimat yang terdiri dari 2 kata atau lebih.

Mam dapat menstimulasi si Kecil dengan mengajari kata-kata sederhana, seperti “halo”, lalu mengapresiasinya jika si Kecil merespons atau menirukan. Bacaan buku bergambar dan tunjukkan karakter yang ada di buku. Stimulasikan tahap tumbuh kembang bayi si Kecil dengan banyak berbicara dan bertanya. Bacaan buku cerita yang interaktif atau aja si Kecil terlibat dalam cerita.

24-36 bulan

Memiliki pemahaman yang baik terhadap percakapan yang familiar (misalnya oleh keluarga), mampu melakukan percakapan melalui tanya-jawab, dan mampu bertanya “mengapa”.

Gunakan cerita interaktif yang lebih kompleks untuk menstimulasi si Kecil, misalnya menebak cerita selanjutnya atau ajak mereka menceritakan kembali. Tingkatkan pula perbendaharaan kata si Kecil dengan memperkenalkan kata-kata baru setiap hari saat membacakan cerita.

 

Perkembangan Psikososial

Perkembangan psikososial berkaitan dengan aspek-aspek psikologis, seperti emosi, motivasi, perkembangan diri pribadi, serta bagaimana si Kecil berhubungan dengan orang lain. Pada fase perkembangan anak ini, si Kecil juga mulai belajar bertanggung jawab dan mengendalikan perasaannya.

Beberapa ciri perkembangan psikososial pada batita:

0-12 bulan

Bonding antara orang tua dan bayi, tersenyum, berceloteh, lebih menyukai ibu, merespon bila namanya dipanggil, senang diajak bermain, dan memahami perintah sederhana.

Mam dapat menstimulasi kemampuan emosi dan sosial si Kecil pada tahap tumbuh kembang bayi 0-12 bulan dengan dengan memberikan perhatian dan interaksi, kontak mata, hingga sentuhan dan pelukan.

12-24 bulan

Meminta sesuatu dengan menunjuk (tanpa menangis/merengek), memeluk orang tua, meniru aktivitas di rumah, dan mulai berbagi mainan dengan anak lain.

Dorong si Kecil untuk berbagi mainan atau benda dengan teman sebaya serta saling menghormati dalam interaksi sosial. Ajarkan pula anak cara menyelesaikan konflik dengan cara yang positif dan non-kekerasan.

24-36 bulan

Menunjukkan kemarahan bila terhalang, mampu bermain pura-pura, mulai membentuk hubungan sosial dan bermain bersama anak lain.

Berikan stimulasi dengan mengajak anak bermain dengan teman sebaya atau anggota keluarga. Kenalkan pula konsep aturan dan batasan serta pujian jia melakukan hal hal baik. Permainan juga bisa sesimpel menggelindingkan bola atau melipat baju.

Baca Juga : Gangguan Tumbuh Kembang Anak yang Perlu Orangtua Pahami

 

Berikan Stimulasi sesuai Kebutuhan dan Minat Anak

Stimulasi yang efektif perlu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan, kemampuan, dan minat anak. Pendekatan ini dilakukan melalui interaksi yang responsif, yaitu ketika orang tua atau pengasuh memperhatikan isyarat, respons, serta ketertarikan anak, kemudian menyesuaikan aktivitas bermain dan belajar dengan kondisi tersebut.

Anak yang terlibat dalam kegiatan sesuai minatnya cenderung lebih antusias, fokus, dan aktif berinteraksi, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna. Stimulasi yang berfokus pada kebutuhan dan minat anak dapat meningkatkan kualitas interaksi antara pengasuh dan anak sekaligus mendukung perkembangan kognitif, bahasa, serta sosial-emosional secara optimal.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda, sehingga variasi dalam waktu pencapaian suatu kemampuan masih dapat termasuk perkembangan normal. Namun, Mam tetap harus jeli membedakan variasi normal ini dengan tanda keterlambatan perkembangan. 

Apabila anak belum mencapai tonggak perkembangan yang diharapkan, kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, atau muncul kekhawatiran terhadap perkembangan anak, kondisi tersebut dapat menjadi tanda perlunya evaluasi lebih lanjut melalui developmental screening oleh tenaga kesehatan.

Selain memberikan stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangan, pastikan juga kebutuhan nutrisi harian Si Kecil terpenuhi. S-26 Procal Nutrissentials hadir dengan Kolin, AHA, DHA, Alfa-Laktalbumin, Omega 3 & 6, dilengkapi vitamin serta mineral untuk dukung perkembangan otak, daya tahan tubuh, dan pertumbuhan si Kecil setiap hari. Dukung belajar pintar si Kecil dengan tubuh dan otak yang optimal.

 

Pertanyaan Seputar Tahapan Tumbuh Kembang Anak

  1. Apa yang dimaksud dengan golden age pada tahap tumbuh kembang anak?
    Golden age atau masa keemasan adalah periode awal kehidupan Si Kecil, terutama pada usia 0–5 tahun, ketika perkembangan otak, fisik, kemampuan belajar, serta aspek sosial dan emosional berlangsung sangat pesat.
  2. Apakah perkembangan fisik anak laki-laki selalu lebih lambat dari anak perempuan
    Tidak selalu. Setiap anak memiliki kecepatan tumbuh kembang yang berbeda dan dipengaruhi oleh faktor genetik, nutrisi, serta lingkungan.
  3. Kapan anak biasanya mulai memahami dan merespons perintah sederhana?
    Anak biasanya mulai memahami dan merespons perintah sederhana sekitar usia 12–18 bulan dengan bantuan gestur atau contoh dari orang di sekitarnya.

Referensi

Black, M. M., Walker, S. P., Attanasio, O., Rubio-Codina, M., Meghir, C., Hamadani, J. D., Fernald, L. C. H., Kowalski, A., & Grantham-McGregor, S. (2023). Promoting Childhood Development Globally Through Caregiving Interventions. Pediatrics, 151(Suppl 2), e2023060221B. https://doi.org/10.1542/peds.2023-060221B

Madhavan, R., & Mani, N. (2024). The quality of caregiver-child interaction is predicted by (caregivers' perception of) their child's interests. Royal Society open science, 11(4), 231677. https://doi.org/10.1098/rsos.231677

CDC. (2026). Developmental Monitoring and Screening. CDC. https://www.cdc.gov/act-early/about/developmental-monitoring-and-screen…

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak.

World Health Organization. (2006). WHO child growth standards: Length/height-for-age, weight-for-age, weight-for-length, weight-for-height, and body mass index-for-age: Methods and development. World Health Organization.

Direktorat Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Petunjuk teknis penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) balita. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Buku kesehatan ibu dan anak (Edisi revisi 2024).

Produk wyeth nutrition

S-26 Procal GOLD

S-26 Procal GOLD

Susu pertumbuhan dengan kandungan nutrisi yang diformulasikan oleh Wyeth Nutrition Expert untuk dukung potensi hebat & Belajar Progresif si Kecil. (Usia 1-3 tahun)

S-26 Promise GOLD

S-26 Promise GOLD

Susu pertumbuhan dengan kandungan nutrisi yang diformulasikan oleh Wyeth Nutrition Expert untuk dukung potensi hebat & Belajar Progresif si Kecil. (Usia 3-12 tahun)

S-26 Procal Ultima

S-26 Procal Ultima

Susu pertumbuhan pertama di Indonesia yang menggunakan susu skim bubuk berasal dari sapi A2 untuk anak usia 1 - 3 tahun.

8886472105816_C1C1_idID.png

S-26 Procal Honey

Susu Pertumbuhan Anak usia 1-3 Tahun untuk dukung kesiapan belajarnya.

Promise Nutrissentials

S-26 Promise Nutrissentials

Susu bubuk Anak usia 3-12 Tahun. Berikan Nutrisi, Inspirasi, & Stimulasi tepat untuk bantu Ia siap belajar.

S-26 Procal GOLD pHPro

S-26 Procal GOLD pHPro

NAN pHPro 3 kini menjadi S-26 Procal GOLD pHPro 3, Susu Pertumbuhan Untuk Anak Usia 1-3 tahun.

Diformulasikan dengan partially hydrolized protein, bantu kurangi risiko alergi.

Join Sekarang
Join Sekarang