Bayi Tidak Bisa BAB: Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Ditulis Oleh: Tim Penulis
Ditinjau Oleh: dr. Achmad Rafli, Sp.A Subsp.Neuro
Bayi tidak bisa BAB atau mengalami kesulitan buang air besar adalah kondisi yang cukup sering terjadi dan kerap membuat orang tua khawatir. Masalah ini biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, seperti perubahan pola makan (terutama saat mulai MPASI), kurangnya asupan cairan, hingga sistem pencernaan bayi yang masih berkembang. Meski demikian, ada berbagai cara mengatasi bayi tidak bisa BAB yang bisa dilakukan, seperti memastikan kecukupan cairan, memberikan makanan tinggi serat untuk bayi yang sudah MPASI, serta melakukan pijatan lembut pada perut untuk membantu melancarkan pencernaan.
Pola BAB pada Bayi
Pada bayi yang sedang mengonsumsi ASI, frekuensi BAB dapat bervariasi tergantung pada usia. Lalu berapa hari normalnya bayi tidak buang air besar? Pada usia 1 bulan, bayi yang tidak BAB sehari sekali dapat menunjukkan bahwa bayi tidak mendapatkan cukup ASI.
Namun setelah usianya menginjak beberapa bulan, bayi yang tidak BAB beberapa hari atau bahkan hingga seminggu tanpa BAB adalah hal wajar. Ini dikarenakan tubuh bayi menggunakan hampir semua nutrisi dari ASI untuk pertumbuhan, sehingga tidak banyak yang tersisa untuk dibuang.
Frekuensi BAB Normal Bayi ASI Vs Bayi Susu Formula
Mam perlu tahu bahwa frekuensi BAB Si Kecil yang minum ASI dan susu formula memiliki perbedaan. Bayi ASI umumnya memiliki frekuensi BAB yang lebih sering dibandingkan bayi susu formula.
Rata-rata, bayi ASI bisa BAB sekitar tiga kali sehari, bahkan tergolong normal jika ia BAB setiap kali selesai menyusu atau hanya satu kali dalam rentang waktu tujuh hari. Sementara itu, bayi yang mengkonsumsi susu formula rata-rata BAB dua kali dalam sehari.
Perbedaan pola ini sangat bervariasi dan paling menonjol pada dua bulan pertama kehidupannya. Selama kotorannya tetap lembut dan Si Kecil menyusu serta tumbuh dengan baik, Mam tidak perlu mengkhawatirkan angka pasti frekuensi tersebut.
Gejala Bayi Tidak Bisa BAB
Masalah bayi susah BAB atau konstipasi merupakan hal yang umum. Namun Mam perlu memperhatikan beberapa gejala dimana menunjukkan bayi merasa tidak nyaman dan tahu kapan harus mencari segera berkonsultasi ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Berikut beberapa gejala bayi tidak bisa BAB yang perlu Mam cermati:
1. Feses bayi keras
Selain perubahan frekuensi BAB, bayi yang mengalami konstipasi mungkin akan mengeluarkan feses yang keras, kering, dan bentuknya kecil seperti butiran peluru.
2. Bayi tampak sering mengejan
Bayi yang susah BAB berusaha keras untuk mengeluarkan feses dengan cara mengejan hebat selama 10-20 menit bahkan hingga menangis atau wajahnya memerah sebelum mengeluarkan feses.
3. Perubahan frekuensi BAB
Frekuensi BAB bayi kurang dari tiga kali seminggu. Namun pada usia bayi hingga 5 bulan, tidak BAB seminggu kurang merupakan hal yang terbilang masih dalam batas wajar.
4. Muntah dan BAB berdarah
Pada kondisi susah BAB yang lebih serius, bayi akan mengalami muntah dan tampak ada campuran darah pada fesesnya. Darah segar tersebut umumnya berasal dari fisura ani (lecet atau robekan kecil di sekitar anus) akibat trauma dari feses yang terlalu keras.
Penyebab Bayi Tidak Bisa BAB
Mam, berikut beberapa penyebab umum bayi tidak bisa BAB. Mengetahui penyebabnya akan membantu Mam untuk memberikan langkah perawatan yang tepat.
● Perubahan pola makan
Masalah susah BAB pada bayi banyak terjadi saat mereka mulai mengkonsumsi makanan padat atau MPASI pada usia 6 bulan. Perubahan pola makan tersebut membuat sistem pencernaan masih beradaptasi dengan jenis makanan baru dimana salah satu dampaknya adalah bayi mengalami susah BAB. Selain itu, Beberapa makanan yang sering diberikan pada tahap awal, seperti sereal beras terlalu kental dan pisang kurang matang, ternyata dapat menyebabkan kondisi tersebut. Sebagai alternatifnya, Mam bisa mengganti sereal biasa dengan sereal gandum utuh atau oatmeal. Untuk asupan buah, berikan kelompok buah "P", yaitu prune, persik, pir, dan plum, yang dapat membantu melunakkan kotoran. Mam juga bisa menambahkan sedikit jus buah plum atau pir ke dalam MPASI Si Kecil untuk meredakan sembelit Si Kecil.
● Asupan cairan yang tidak cukup
Kekurangan cairan dalam pola makan bayi juga bisa menyebabkan susah BAB karena salah satu fungsi cairan adalah membantu melunakkan feses untuk mempermudah BAB.
● Kondisi medis tertentu
Meskipun jarang, ada kondisi medis yang bisa menyebabkan konstipasi pada bayi, seperti penyakit Hirschsprung, hipotiroidisme, atau fibrosis kistik. Keterlambatan pengeluaran mekonium (feses pertama) lebih dari 24-48 jam setelah lahir merupakan salah satu red flag penyakit Hirschsprung. Selain itu, masalah pada persarafan usus atau tonus otot yang lemah (hipotonia) juga dapat memicu konstipasi kronis yang membutuhkan rujukan spesialis anak.
Cara Mengatasi Bayi Tidak Bisa BAB
Apa yang harus dilakukan jika bayi susah BAB? Mam bisa melakukan beberapa cara berikut ini:
1. Cukupi asupan cairan
Cara mengatasi bayi tidak bisa BAB adalah Mam bisa memberikan asupan cairan yang cukup baik dari konsumsi ASI, air putih, atau buah-buahan. Untuk air putih atau buah-buahan hanya diberikan pada bayi yang sudah mengonsumsi MPASI.
2. Perhatikan asupan serat untuk bayi yang sudah konsumsi MPASI
Jika bayi sudah mulai makan makanan padat, coba tambahkan makanan yang kaya serat seperti sayur atau buah yang dihaluskan.
3. Beri pijatan lembut
Mam bisa melakukan pijatan lembut di bagian perut bayi dengan gerakan melingkar searah jarum jam. Mam juga bisa membaringkan bayi, kemudian pegang kedua kakinya dan gerakkan seperti kayuhan sepeda.
4. Kompres dengan lap hangat
Cara lain untuk mengurangi ketidaknyamanan bayi saat susah BAB adalah dengan mengompres perutnya dengan handuk atau waslap yang sudah dibilas air hangat. Cara lain adalah dengan memandikannya dengan air hangat untuk membuat si Kecil lebih rileks dan membantunya untuk bisa BAB dengan lancar kembali.
5. Konsultasi ke dokter
Jika masalah sembelit pada bayi berlangsung lama atau disertai dengan gejala lain yang lebih serius seperti muntah, badan lemah, berat badan turun, BAB bercampur darah, Mam bisa segera menghubungi dokter spesialis anak untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dan memastikan kondisi medis si Kecil. Mam, jika Si Kecil yang masih menyusu ASI tidak BAB selama empat hari atau lebih, segera hubungi dokter anak.
Waspadai juga tanda bahaya bayi tidak BAB lainnya yang memerlukan pemeriksaan medis, seperti tinja berdarah, tinja berwarna putih atau keabu-abuan, perut kembung membandel, muntah, serta jika Si Kecil terlihat kesakitan. Terkait obat pencahar, Mam dilarang keras memberikannya kepada bayi tanpa anjuran dokter. Segala bentuk stimulan buang air besar, termasuk enema maupun supositoria, tidak direkomendasikan untuk digunakan secara mandiri. Jika perubahan asupan makanan atau cairan tidak membantu meredakan sembelitnya, segera bawa Si Kecil ke dokter.
Dengan mengetahui cara mengatasi bayi tidak bisa BAB di atas, Mam akan lebih memahami masalah kesehatan pencernaan bayi yang sangat penting untuk menjaga kenyamanan dan kesehatan si Kecil.
Pertanyaan Seputar Bayi Tidak Bisa BAB
1. Apakah wajar bayi ASI eksklusif jarang BAB?
Ya, sangat wajar bagi bayi ASI yang usianya sudah menginjak beberapa bulan untuk jarang buang air besar, bahkan hingga satu kali dalam seminggu. Hal ini dikarenakan tubuh bayi menyerap hampir seluruh nutrisi dari ASI untuk proses pertumbuhannya, sehingga hanya ada sedikit sisa ampas yang dibuang. Selama kotorannya tetap lembut dan bayi tumbuh dengan baik, kondisi tersebut tidak perlu dikhawatirkan.
2. Makanan MPASI apa yang memicu sembelit pada bayi?
Makanan MPASI yang sering memicu sembelit pada tahap awal adalah sereal beras yang disajikan terlalu kental. Selain itu, pemberian pisang yang kurang matang juga dapat menyebabkan bayi mengalami susah BAB.
3. Bolehkah memberikan obat pencahar untuk bayi?
Mam dilarang keras memberikan obat pencahar kepada bayi tanpa adanya anjuran langsung dari dokter. Segala bentuk stimulan buang air besar, termasuk enema dan supositoria, tidak direkomendasikan untuk digunakan secara mandiri.
Referensi
1. Terhi Solasaari, Korpela, K., Sohvi Lommi, Sanni Hyvönen, Gardemeister, S., Merras-Salmio, L., Salonen, A., Willem, & Kaija-Leena Kolho. (2024). Bowel function in a prospective cohort of 1052 healthy term infants up to 4 months of age. European Journal of Pediatrics, 183(8), 3557–3565. https://doi.org/10.1007/s00431-024-05625-0
2. Unitypoint.org. Breastfeeding Poop vs. Formula Poop. What’s the Difference? Dari: https://www.unitypoint.org/news-and-articles/breastfeeding-poop-vs-formula-poop-whats-the-difference. Diakses pada 10/06/2026
3. Childrenscolorado.org. Baby Poop Guide. Dari: https://www.childrenscolorado.org/just-ask-childrens/articles/baby-poop-guide/. Diakses pada 10/06/2026
4. UCSF Benioff Children’s Hospital. Starting Solid Foods. Dari: https://www.ucsfbenioffchildrens.org/education/starting-solid-foods. Diakses pada 10/06/2026
5. Vinmec International Hospital. HOW MANY BOWEL MOVEMENTS PER DAY IS NORMAL FOR A 7-MONTH-OLD BABY? Dari: https://www.vinmec.com/eng/blog/how-many-bowel-movements-per-day-is-normal-for-a-7-month-old-baby. Diakses pada 10/06/2026
6. The Royal Children’s Hospital Melbourne. Kids Health Info : Constipation. Dari: https://www.rch.org.au/kidsinfo/fact_sheets/Constipation/. Diakses pada 10/06/2026
7. Zeevenhooven J, Koppen IJ, Benninga MA. The New Rome IV Criteria for Functional Gastrointestinal Disorders in Infants and Toddlers. Pediatr Gastroenterol Hepatol Nutr. 2017 Mar;20(1):1-13. doi: 10.5223/pghn.2017.20.1.1.
8. Ho JMD, How CH. Chronic constipation in infants and children. Singapore Med J. 2020 Feb;61(2):63-68. doi: 10.11622/smedj.2020014.