Protein untuk Anak: Manfaat, Sumber Terbaik, dan Kebutuhan Harian
Ditulis Oleh : Tim Penulis
Ditinjau Oleh Chairunita M.Si
Protein adalah komponen penting dalam pertumbuhan dan perkembangan Si Kecil. Fungsi protein bagi tubuh anak utamanya dalam membangun otot dan tulang, serta mendukung perkembangan otak dan kecerdasan Si Kecil.
Zat gizi ini juga berfungsi membentuk antibodi untuk sistem kekebalan tubuh anak. Untuk memenuhi asupan protein untuk anak, Mam dapat memberikan protein hewani yang kaya asam amino esensial seperti telur, ikan, daging, dan susu. Sebagai variasi pelengkap, berikan juga sumber protein nabati seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan dalam menu makanannya.
Protein susu sapi bisa mendukung pembentukan otot, perbaikan jaringan, sistem kekebalan tubuh, dan berbagai fungsi lainnya. Sebagai sumber protein hewani berkualitas tinggi dan mudah dicerna, susu sapi menawarkan nutrisi esensial bagi Si Kecil di masa tumbuh kembangnya.
Lebih dari sekadar nutrisi dasar, asupan rutin susu yang kaya protein ini mendukung perkembangan fisik dan kognitif yang sangat penting untuk gaya hidup sehat dan aktif.
Tanda Anak Kekurangan Protein
Mam, kekurangan asupan protein pada Si Kecil dapat memunculkan sejumlah tanda fisik yang perlu segera diwaspadai. Salah satu akibat anak kekurangan protein yang paling jelas adalah stunting atau terhambatnya pertumbuhan tinggi dan berat badan Si Kecil.
Selain itu, tubuh Si Kecil bisa tampak sangat kurus dengan massa otot yang menyusut, tulang yang terlihat menonjol, dan kulit yang tampak seperti keriput.
Pada tahap yang berat, kekurangan protein juga ditandai dengan edema, yakni pembengkakan akibat penumpukan cairan yang biasanya muncul di area tangan, kaki, hingga membuat perut tampak buncit.
Tanda fisik lainnya dapat diamati langsung pada kondisi kulit dan rambut. Kulit Si Kecil bisa berubah menjadi sangat kering, pucat, bersisik, atau memunculkan bercak kecokelatan yang mudah terkelupas.
Sementara itu, rambutnya cenderung berubah warna menjadi kemerahan menyerupai rambut jagung, terasa rapuh, dan sangat mudah rontok.
Perubahan fisik pada rambut dan kulit ini terjadi karena tubuh terpaksa mengalihkan sisa cadangan protein yang ada untuk mempertahankan fungsi organ utama yang lebih penting bagi keberlangsungan hidup.
Protein Hewani Vs Protein Nabati, Mana Lebih Baik untuk Balita?
Mam, dalam memenuhi kebutuhan gizi Si Kecil, protein hewani lebih direkomendasikan dan dinilai memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan protein nabati. Protein hewani, seperti daging, ikan, telur, dan susu, mengandung asam amino esensial yang lebih lengkap dan lebih mudah diserap oleh tubuh. Selain itu, protein hewani juga tinggi akan zat gizi mikro esensial, seperti vitamin B12, vitamin D, zink, dan zat besi jenis heme yang lebih mudah digunakan oleh tubuh.
Asupan gizi yang lengkap dari protein hewani ini sangat efektif untuk mendukung perkembangan anak dan mencegah masalah kelambatan pertumbuhan atau stunting.
Di sisi lain, protein nabati dari kacang-kacangan memiliki susunan asam amino esensial yang tidak sekomplit protein hewani. Meskipun demikian, Mam tetap dapat memberikannya sebagai variasi menu harian Si Kecil.
Agar kualitas nutrisinya meningkat dan optimal, Mam perlu mengkombinasikan dua atau lebih sumber protein nabati yang berbeda jenis.
Gabungan sumber protein nabati yang beragam ini akan saling melengkapi kekurangan asam aminonya, sehingga mutu gizi dari makanan yang dikonsumsi Si Kecil menjadi jauh lebih baik.
Sumber Protein Hewani dan Nabati
Mam, memenuhi kebutuhan gizi Si Kecil tidak harus bergantung pada bahan makanan yang mahal atau sulit dicari. Di Indonesia, berbagai makanan tinggi protein untuk anak berkualitas tinggi, baik hewani maupun nabati, sangat melimpah dan mudah ditemukan di pasar maupun swalayan.
Berikut adalah daftar sumber protein dari yang paling mudah ditemui untuk menu harian Si Kecil:
Sumber Protein Hewani
- Telur: baik telur ayam, bebek, maupun puyuh.
- Ikan: ikan lokal seperti tongkol, lele, atau ikan kembung.
- Daging: baik daging merah seperti sapi atau kambing maupun daging unggas seperti ayam, bebek, atau puyuh.
- Susu dan olahannya: yogurt, keju, kefir termasuk.
Sumber Protein Nabati
- Tahu dan Tempe: Olahan dari kacang kedelai ini adalah sumber protein nabati yang paling akrab di meja makan keluarga Indonesia dan sangat mudah didapatkan.
- Aneka Kacang-kacangan: Mam juga bisa memanfaatkan kacang hijau, kacang tanah, kacang koro, hingga kacang merah sebagai variasi asupan nabati.
Telur sebagai Sumber Protein yang Mudah Ditemui dan Terjangkau
Mam, telur adalah sumber protein yang terjangkau dan mudah ditemui untuk mengoptimalkan pertumbuhan Si Kecil. Meski begitu, frekuensi aman pemberiannya perlu disesuaikan dengan rentang usia anak. Jangan sampai pemberian telur pada anak terlalu banyak maupun terlalu sedikit.
Bagi bayi berusia 6 hingga 12 bulan, Mam dapat memberikan rata-rata setengah hingga satu butir telur per hari. Secara lebih rinci, bayi 6-7 bulan cukup diberi setengah kuning telur 2-3 kali seminggu, sedangkan usia 8-12 bulan porsinya satu kuning telur 3-4 kali seminggu.
Saat Si Kecil memasuki usia 1-2 tahun, ia sudah bisa mengonsumsi putih dan kuning telur utuh sebanyak 3-4 butir per minggu. Bagi anak yang berusia di atas satu hingga dua tahun, mengonsumsi maksimal satu butir telur setiap hari tergolong aman.
Ingat Mam, telur harus selalu dimasak hingga matang sempurna guna mencegah infeksi bakteri Salmonella yang membahayakan pencernaan Si Kecil.
Pilihan Makanan Aman untuk Anak Alergi Protein
Susu Sapi sebagai Sumber Protein yang Unggul
Susu sapi dikenal sebagai sumber protein yang lengkap dan serba guna, mengandung sembilan asam amino esensial, unsur penting yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh sendiri.
Asam amino berperan dalam berbagai fungsi vital, seperti pertumbuhan dan perbaikan sel, mengontrol sistem kekebalan tubuh, serta perkembangan tubuh Si Kecil secara keseluruhan.
Protein hewani sangat penting di masa tumbuh kembang karena asupan protein hewani yang lebih tinggi berkaitan dengan tanda-tanda pertumbuhan, seperti peningkatan tinggi badan dan massa otot hingga masa kanak-kanak lanjut.
Hal ini menunjukkan bahwa susu sapi merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang mendukung dasar yang kuat bagi pertumbuhan fisik dan kognitif yang sehat.
Ragam Protein dalam Susu Sapi dan Manfaat Uniknya
Kandungan protein susu sapi terbagi dalam dua jenis utama—kasein dan whey—yang bersama-sama memberikan profil asam amino seimbang, bermanfaat untuk pertumbuhan jangka panjang maupun kebutuhan pemulihan segera:
- Kasein (sekitar 80% dari protein susu): Protein yang dicerna lebih lambat ini memberikan pelepasan asam amino yang stabil dalam jangka waktu panjang, ideal untuk pemeliharaan otot dan memberikan rasa kenyang. Pelepasan yang stabil ini mendukung pemeliharaan massa otot, yang sangat penting selama periode pertumbuhan pesat.
- Whey (sekitar 20% dari protein susu): Protein yang dicerna lebih cepat ini memberikan asam amino dengan lebih cepat, membantu pemulihan dan pertumbuhan otot, terutama setelah aktivitas fisik. Protein whey kaya akan asam amino rantai cabang (BCAA), seperti leusin, yang terbukti berperan penting dalam pertumbuhan otot dan perbaikan sel.
Kombinasi kasein dan whey dalam protein susu sapi menjadikannya pilihan optimal untuk mendukung perkembangan otot, bermanfaat khususnya bagi anak-anak yang aktif berolahraga atau sedang mengalami lonjakan pertumbuhan.
Kandungan Protein Susu Sapi dan Peranannya dalam Memenuhi Kebutuhan Nutrisi Harian
Setiap sajian susu sapi menyediakan sekitar 8 gram protein berkualitas tinggi yang memenuhi sebagian besar kebutuhan protein harian anak.
Jenis-jenis susu sapi yang tinggi protein, seperti susu segar atau whole milk, sering menjadi pilihan ideal karena kandungan proteinnya yang optimal dan lengkap.
Anak-anak usia sekolah umumnya membutuhkan antara 0,85 hingga 1,2 gram protein per kilogram berat badan setiap harinya untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka. Dengan memasukkan susu sapi dalam pola makan seimbang, Mam dapat membantu memastikan Si Kecil memenuhi kebutuhan proteinnya, berkontribusi tidak hanya pada pertumbuhan otot dan kesehatan tulang, tetapi juga pada fungsi penting seperti dukungan kekebalan dan perkembangan kognitif.
Kebutuhan Protein Harian Anak Berdasarkan Usia
Kebutuhan protein bervariasi berdasarkan usia dan tingkat aktivitas, namun pedoman saat ini memberikan gambaran umum sebagai berikut:
- Usia 1-3 tahun: Sekitar 13 gram per hari
- Usia 4-8 tahun: Sekitar 19 gram per hari
- Usia 9-13 tahun: 34 gram per hari
Cara Mencukupi Kebutuhan Protein untuk Anak
Mam, mencukupi kebutuhan protein Si Kecil bisa dilakukan melalui kreasi menu sehari-hari yang praktis di rumah. Untuk sarapan, Mam dapat menyajikan olahan sederhana seperti omelet brokoli keju, atau perpaduan nasi dengan telur dadar dan orak-arik tahu.
Memasuki waktu makan siang, kombinasi lauk hewani dan nabati sangat direkomendasikan, misalnya melalui sajian pepes ikan berdampingan dengan tempe bacem.
Sementara untuk makan malam, hidangan berkuah seperti sayur sup bening yang ditambahkan potongan daging ayam serta telur puyuh bisa menjadi menu yang lezat. Sebagai pelengkap di antara jam makan utama, Mam bisa memberikan camilan berprotein seperti bakso daging atau puding susu.
Jika Si Kecil masih berusia 6 hingga 8 bulan, seluruh lauk pauk tersebut perlu dihaluskan terlebih dahulu agar mudah dicerna. Ketika usianya menginjak 9 hingga 12 bulan, tekstur makanan dapat disesuaikan menjadi bentuk cincang.
Variasi paduan lauk hewani dan nabati pada menu harian ini sangat penting untuk saling melengkapi ketersediaan asam amino esensial yang esensial bagi tumbuh kembang anak.
Mam juga bisa meberikan dua sajian susu per hari dapat membantu memenuhi sebagian besar kebutuhan protein untuk anak, terutama untuk Si Kecil yang berusia lebih muda.
Susu sapi menyediakan cara yang praktis dan bergizi untuk membantu memenuhi kebutuhan protein harian Si Kecil, yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan. Memasukkan susu atau produk khusus seperti S-26 Procal Nutrissentials dalam menu sehari-hari memastikan Si Kecil mendapatkan protein berkualitas tinggi dan nutrisi esensial lainnya yang mendukung pertumbuhan fisik dan kognitif yang sehat.
S‑26 Procal Nutrissentials hadir dengan Kolin, AHA, DHA, Alfa-Laktalbulmin, Omega 3 & 6, dilengkapi vitamin serta mineral untuk dukung perkembangan otak, daya tahan tubuh, dan pertumbuhan si Kecil setiap hari. Dukung belajar pintar si Kecil dengan tubuh dan otak yang optimal. Semoga informasi ini membantu untuk memenuhi kebutuhan protein untuk anak ya, Mam!
Baca Juga : Mengenal Susu Terhidrolisa Parsial untuk Si Kecil
Pertanyaan Seputar Protein untuk Anak
- Apakah anak boleh makan telur setiap hari sebagai sumber protein?
Boleh, anak berusia di atas satu hingga dua tahun tergolong aman mengonsumsi maksimal satu butir telur setiap hari. Namun, untuk bayi dan anak di bawah usia dua tahun, porsi dan frekuensinya harus dibatasi dan disesuaikan dengan usianya. Selain itu, pastikan telur selalu dimasak hingga matang sempurna untuk mencegah infeksi bakteri pencernaan.
- Apa tanda fisik jika anak kekurangan asupan protein?
Tanda fisik utama anak yang kekurangan protein meliputi stunting, tubuh yang sangat kurus dengan massa otot menyusut, serta tulang yang tampak menonjol. Pada tahap yang lebih berat, kondisi ini juga ditandai dengan pembengkakan cairan (edema) pada perut dan anggota gerak, kulit menjadi kering atau bersisik, serta rambut berubah kemerahan dan mudah rontok.
- Mana yang lebih baik, protein hewani atau nabati untuk balita?
Protein hewani dinilai lebih baik dan lebih direkomendasikan untuk balita dibandingkan protein nabati. Hal ini karena protein hewani mengandung asam amino esensial yang lebih lengkap dan lebih mudah diserap oleh tubuh. Meski begitu, protein nabati tetap dapat diberikan sebagai variasi asupan harian dengan cara mengkombinasikan dua atau lebih jenis yang berbeda agar kualitas nutrisinya optimal.
Referensi
Cleveland Clinic. 8 Symptoms of Protein Deficiency. Dari: https://health.clevelandclinic.org/protein-deficiency-symptoms. Diakses pada 16/06/2026
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Manfaat Protein untuk Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini. Dari: https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3610/manfaat-protein-untuk-per…. Diakses pada 16/06/2026
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Peran Protein Hewani dalam Pencegahan Stunting. Dari: https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2243/peran-protein-hewani-dala…. Diakses pada 16/06/2026
IDAI. Bukan Sekadar Kenyang: Pentingnya Protein Hewani dalam MP-ASI untuk Cegah Stunting. Dari: https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/bukan-sekadar-ken…. Diakses pada 16/06/2026
Kemenkes RI. Ingin Si Kecil Tumbuh Optimal? Resep MPASI Lengkap Jawabannya! Dari: https://ayosehat.kemkes.go.id/resep-mpasi-lengkap. Diakses pada 16/06/2026
Endrinikapoulos, A., Diana Nur Afifah, Mexitalia, M., Robi Andoyo, Ihat Hatimah, & Nuryanto Nuryanto. (2023). Study of the importance of protein needs for catch-up growth in Indonesian stunted children: a narrative review. Sage Open Medicine, 11, 205031212311655-205031212311655. https://doi.org/10.1177/20503121231165562
Kemenkes RI. Malnutrisi Energi Protein. Dari: https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/defisiensi-nutrisi/malnutr…. Diakses pada 16/06/2026
Dipasquale, V., Cucinotta, U., & Romano, C. (2020). Acute Malnutrition in Children: Pathophysiology, Clinical Effects and Treatment. Nutrients, 12(8), 2413. https://doi.org/10.3390/nu12082413
Kemenkes RI. Cegah Stunting Pada Anak Dengan Protein Hewani. Dari: https://kemkes.go.id/id/%20cegah-stunting-pada-anak-dengan-protein-hewa…. Diakses pada 16/06/2026
Vinmec International Hospital. Is it good for children to eat a lot of eggs? Dari: https://www.vinmec.com/eng/blog/is-it-good-for-children-to-eat-a-lot-of…. Diakses pada 16/06/2026
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Manfaat Telur sebagai Nutrisi bagi Tumbuh Kembang Anak Usia Dini. Dari: https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1602/manfaat-telur-sebagai-nut…. Diakses pada 16/06/2026
Produk wyeth nutrition